banner 728x250
Berita  

Misteri Tugu Belanda yang Terbongkar di Halaman Gubernur NTB,Sejarah yang Terkubur atau Sekedar Bongkahan Batu?

banner 120x600
banner 468x60

Siapa sangka, di balik megahnya Kantor Gubernur NTB yang sering menjadi pusat perhatian, tersembunyi serpihan sejarah yang memancing rasa penasaran. Sebuah bongkahan batu granit, sisa dari Monumen Ekspedisi Belanda era Perang Lombok 1894, ditemukan saat renovasi kantor yang sudah berlangsung empat bulan terakhir. Penemuan ini sontak membuat para pekerja kaget, seolah sejarah kembali mengetuk pintu masa kini.

“Ini bukan sekadar batu biasa,” ujar Sekretaris Daerah NTB, H. Lalu Gita Ariadi, dengan nada serius. Menurutnya, monumen tersebut dibangun untuk mengenang tentara Hindia Belanda yang gugur, termasuk Jenderal P.P.H. Van Ham, dalam perang melawan pejuang Lombok. “Konon, materialnya diangkut langsung dari Amsterdam menggunakan kapal bernama Prins Hendrik,” tambahnya, membuat semua orang yang mendengar ceritanya merasa seperti membaca novel sejarah.

banner 325x300

Tugu yang dulunya berdiri megah setinggi tujuh meter dengan lebar satu meter ini terdiri dari tiga bagian. Bagian bawahnya dari batu Belgia, bagian tengah dari granit, dan bagian atasnya yang megah kini hanya menyisakan bongkahan abu-abu. Misteri besar pun muncul: bagaimana monumen bersejarah ini bisa terkubur begitu saja di halaman Kantor Gubernur?

“Penyebab pastinya tidak diketahui,” kata Gita dengan ekspresi penuh teka-teki. Namun, ia berspekulasi bahwa faktor sejarah dan alam mungkin berperan. “Bayangkan saja, sejak tahun 1894, Lombok sudah melalui perang dunia, invasi Jepang, hingga berbagai pembangunan modern,” jelasnya.

Lebih menarik lagi, lokasi penemuan ini dulunya adalah kebun milik Raja Lombok. Kini, halaman Kantor Gubernur menjadi saksi bisu dari bongkahan sejarah yang terlupakan. “Dulu, kawasan ini adalah Kebun Raja,” ungkap Gita, mengaitkan kisah penemuan ini dengan romantisme era kerajaan Lombok.

Penemuan ini menimbulkan perdebatan di kalangan masyarakat dan arkeolog. Apakah sisa tugu ini harus dipertahankan sebagai bagian dari sejarah yang kelam atau dibiarkan terlupakan seperti banyak artefak kolonial lainnya? Gita pun menawarkan solusi, “Kalau arkeolog mau dimuseumkan, ayo!” katanya, seolah membuka jalan bagi diskusi lebih lanjut.

Namun, tak semua pihak setuju. Ada yang menganggap monumen tersebut adalah simbol penjajahan yang sebaiknya dibiarkan sirna. “Ini hanya pengingat luka lama,” komentar seorang netizen yang ikut menanggapi kabar ini di media sosial. Di sisi lain, beberapa orang melihatnya sebagai kesempatan untuk mengungkap sejarah yang selama ini terkubur.

Di tengah perdebatan ini, satu hal yang pasti: bongkahan batu granit tersebut kini menjadi saksi diam di halaman Kantor Gubernur NTB, menunggu keputusan nasibnya. Apakah ia akan menjadi pusat perhatian di museum, atau justru tetap menjadi misteri yang terkubur di halaman sebuah gedung modern?

“Sejarah memang punya cara unik untuk kembali menyapa,” tutup Gita sambil meninggalkan banyak pertanyaan yang belum terjawab. Siapa yang tahu, mungkin ini hanya awal dari rahasia besar yang selama ini tersembunyi di Lombok.

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *