Hujan deras mengguyur Desa Prian pada Minggu (22/12), tapi langit kelabu tak mampu menghentikan semangat puluhan orang tua yang berteduh di bawah tenda. Mereka berkumpul dengan hati berdebar-debar, menunggu momen penuh kebanggaan: menyaksikan anak-anak mereka diwisuda sebagai penghafal Alquran. Dalam derasnya hujan, ada kisah luar biasa yang menghangatkan hati, bahkan bisa membuat dunia ternganga.
Ponpes Darul Muttaqien NWDI Prian bukanlah pesantren biasa. Berdiri kokoh selama 74 tahun, pondok ini terus berinovasi. Awalnya hanya mengajarkan Bahasa Arab dan Inggris, kini program tahfiz Alquran telah menjadi magnet utama. Menurut pengasuhnya, TGH Adirimbun Kusumanegara, antusiasme masyarakat terhadap program ini melonjak drastis.
“Tahun ini kita wisuda 37 hafiz dan hafizah,” ujar Adirimbun bangga. “Mereka ada yang hafal 30 juz, sebagian lagi 15 juz.” Namun, program tahfiz di Darul Muttaqien tidak hanya soal menghafal ayat. Santri juga harus menguasai makhorijul huruf, hukum tajwid, hingga mengetahui posisi setiap ayat.
Metode Hafalan Kilat yang Fenomenal
Ada sesuatu yang membuat program ini jadi pembicaraan hangat. Dengan metode menghafal Ummi per jilid, para santri bisa menguasai 30 juz dalam waktu hanya 3-4 bulan! Tak heran, metode ini dianggap sebagai terobosan pertama di Lombok. Santri harus melewati seleksi ketat, memastikan bacaan Alquran mereka sudah sempurna sebelum mulai menghafal dari nol.
“Kami tidak hanya melatih hafalan, tapi juga irama, bacaan, tajwid, hingga hukum garib. Ini semua menjadikan hafalan mereka benar-benar berkualitas,” jelas Adirimbun.
Metode yang terstruktur ini sukses menghasilkan alumni yang luar biasa. Banyak dari mereka melanjutkan pendidikan ke universitas ternama seperti Universitas Al Azhar di Mesir dan Umm Al-Qura di Arab Saudi.
Belajar di Kelas Alam, Wisuda di Tengah Hujan
Uniknya lagi, kelas program khusus tahfiz ini tidak dilakukan di ruangan mewah, melainkan di berugak terbuka. Dengan keterbatasan dana, kelas alam ini menjadi saksi perjuangan para santri dalam menghafal Alquran.
“Hafalan itu bukan sekadar lisan,” kata Adirimbun menekankan. “Tapi bagaimana kita menerapkan nilai-nilai Alquran dalam kehidupan sehari-hari.”
Hujan deras yang mengiringi wisuda hari itu seolah menjadi saksi bisu perjuangan mereka. Tidak ada yang beranjak, tidak ada yang mengeluh. Semua mata terpaku pada prosesi wisuda yang sederhana namun penuh makna.
Pesantren yang Mengubah Arah Hidup
Program tahfiz ini bukan hanya mencetak hafiz-hafizah, tapi juga membentuk karakter. Alumni Ponpes Darul Muttaqien tak hanya dikenal sebagai penghafal Alquran, tetapi juga pemimpin masyarakat yang berintegritas.
Bagi orang tua yang hadir, wisuda ini bukan sekadar perayaan hafalan anak-anak mereka. Ini adalah pengingat bahwa, di tengah keterbatasan, mimpi besar bisa terwujud.
Di bawah tenda basah itu, harapan memancar. Dan, di bawah guyuran hujan lebat, Desa Prian menyaksikan keajaiban.
“Dari sini, anak-anak kami akan melangkah jauh, membawa Alquran sebagai bekal hidup,” kata seorang orang tua sambil menyeka air mata bahagia.
Hujan bisa membasahi bumi, tapi semangat mereka tetap menyala-nyala. Hujan lebat, hafalan hebat—itulah cerita dari Desa Prian yang akan terus dikenang.


















