banner 728x250
Berita  

Dompu Tenggelam! Relokasi Wajib atau Kehancuran Total Menanti

banner 120x600
banner 468x60

Kabupaten Dompu kembali menjadi headline, bukan karena prestasi, tapi tragedi. Luapan Sungai Laju dan anak-anak sungainya—Silo, Soa, serta Rababaka—mengubah 100 rumah di bantaran sungai menjadi lautan lumpur. Bukan sekadar insiden, ini adalah alarm keras yang tak bisa lagi diabaikan.

Kepala Pelaksana BPBD NTB, Ahmadi, mengungkap solusi yang mungkin terdengar pahit tapi sangat logis: relokasi wajib bagi warga di sekitar bantaran sungai. “Ini bukan sekadar opsi, tapi kewajiban. Kalau tidak, banjir tahunan akan terus menghantui mereka,” tegas Ahmadi di Mataram, Senin (23/12).

banner 325x300

“Berbahaya dan Melanggar Aturan!”

Ahmadi tak tanggung-tanggung menyebut warga yang mendirikan rumah di sempadan sungai sebagai pelanggar aturan. “Pinggir sungai itu teras air, bukan tempat tinggal manusia. Mereka bermain dengan risiko besar,” katanya lugas.

Bukan hanya masalah aturan, kondisi topografi cekung di wilayah tersebut memperparah situasi. Banjir setinggi dua meter melanda, menghanyutkan harta benda, dan meninggalkan trauma mendalam. “Kami tidak bisa terus-menerus membiarkan hal ini terjadi. Ini soal nyawa,” tambahnya.

Banjir Jadi ‘Tradisi’ Tahunan

Tragisnya, ini bukan kali pertama Dompu tenggelam. Banjir sudah seperti tamu tahunan, tapi kali ini kerusakannya luar biasa. Rumah-rumah yang sempat dibangun ulang kini kembali porak poranda. “Topografinya memang tidak bersahabat. Setiap hujan deras, air pasti menggenangi rumah-rumah itu,” jelas Ahmadi.

Relokasi: Antara Harapan dan Tantangan

Ahmadi mengakui, solusi ini tidak akan mudah. Pemerintah harus menyediakan lahan baru untuk relokasi, membangun rumah layak, dan memastikan fasilitas memadai. “Kalau tidak direlokasi, ini seperti menunggu bencana berikutnya. Tapi tentu harus ada tempat baru yang siap dulu,” katanya.

Ahmadi juga menegaskan bahwa rumah-rumah yang ditinggalkan harus dirobohkan agar tak lagi digunakan. “Kita tidak ingin ada warga yang kembali membangun di lokasi yang sama. Itu seperti bunuh diri perlahan,” katanya tegas.

Dompu Bukan Satu-satunya

Banjir juga melanda wilayah Sumbawa dan Kota Bima. Di Bima, luapan Sungai Padulo menyebabkan pemukiman terendam akibat tanggul yang terlalu rendah. “Tanggul ini jelas tidak memadai. Perlu penanganan darurat, seperti meninggikan tanggul,” ungkap Ahmadi. Namun, dia mengingatkan bahwa semua ini bergantung pada anggaran.

Musim Hujan Belum Berakhir

NTB masih harus bersiap menghadapi tiga bulan hujan deras. Prediksi cuaca menunjukkan potensi banjir kembali sangat tinggi. “Kalau ini dibiarkan, kita hanya menunggu bencana lebih besar,” ujar Ahmadi.

Bangkit atau Hancur?

Meski saat ini situasi di Dompu sudah mulai kondusif, warga sadar bahwa ini bukan akhir. Bersama TNI, Polri, dan aparat desa, mereka membersihkan sisa-sisa banjir. Bantuan logistik dari berbagai pihak juga mulai berdatangan. Namun, Ahmadi mengingatkan, relokasi adalah kunci.

“Kita bisa terus menangani banjir setiap tahun, atau kita bisa menghentikannya sekarang dengan keputusan berani. Pilihan ada di tangan kita semua,” pungkasnya.

OPINI: Jika masyarakat Dompu tetap menolak relokasi, jangan salahkan alam ketika bencana berikutnya datang menghancurkan lebih besar lagi. Pilihannya jelas: pindah dan selamat, atau tetap tinggal dan terancam. Pemerintah, masyarakat, kita semua harus bergerak sekarang!

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *