Bukan hanya cuaca yang bikin gerah, tapi juga harga cabai di pasar tradisional 10 kabupaten/kota di NTB yang meroket tajam menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru). Berdasarkan data Dinas Perdagangan NTB per 23 Desember 2024, harga cabai rawit merah mencetak rekor dengan kenaikan 21 persen dalam sehari. Ya, angka ini bukan hoaks, dari Rp 28.550 langsung melonjak jadi Rp 36.317 per kilogramnya—alias naik Rp 7.767 per kilogram!
Kenaikan ini bikin kenaikan sehari sebelumnya yang hanya 1 persen atau Rp 367 per kilogram tampak seperti remah-remah kerupuk. Tapi jangan salah, cabai rawit merah bukan satu-satunya “bintang” dalam drama harga ini. Cabai merah besar juga ikutan naik 14 persen, dari Rp 39.233 menjadi Rp 45.553—selisih Rp 6.300 per kilogram. Dan, jika Anda penggemar sambal cabai rawit hijau, bersiaplah merogoh kocek lebih dalam, karena harganya melonjak 13 persen dari Rp 19.283 menjadi Rp 22.050, atau naik Rp 2.767 per kilogram.
Cuaca Hujan dan Stok Minim, Kombinasi Mematikan untuk Dompet Konsumen
Apa penyebab harga cabai ini seperti roller coaster? Jawabannya sederhana tapi bikin jengkel: pasokan menurun akibat cuaca yang tidak bersahabat. Hujan yang mengguyur NTB beberapa hari terakhir membuat para petani kesulitan memanen cabai dalam jumlah besar. “Sejak hujan mulai deras, harga memang terus naik. Cabai langka di pasar,” keluh Ahmad, pedagang sembako di Pasar Pagesangan.
Hal senada disampaikan Asisten II Setda NTB, Fathul Gani, yang menegaskan bahwa kenaikan harga ini kerap terjadi di musim penghujan. Namun, ia memastikan stok pangan strategis, termasuk cabai, bawang merah, dan tomat, tetap aman menjelang Nataru. “Kami terus koordinasi dengan kabupaten/kota agar stok tidak bocor ke luar daerah,” tegasnya.
Harga Meroket, Perayaan Tetap Berlanjut
Meskipun harga cabai seperti menaiki wahana ekstrim, Fathul Gani optimis kebutuhan masyarakat akan tetap terpenuhi. Namun, tantangan terbesar adalah memastikan petani dan pengepul tidak tergiur menjual stok cabai ke luar daerah yang menawarkan harga lebih tinggi. “Kami akan terus pantau distribusi agar NTB tidak kehabisan stok,” tambahnya.
Netizen Panas! “Ini Sambal Mahal atau Emas Cair?”
Kenaikan harga cabai ini tentu saja langsung memantik reaksi netizen. Media sosial penuh dengan komentar pedas. “Cabai naik 21 persen, berarti sambal saya naik kelas jadi sambal sultan!” tulis seorang pengguna Twitter. Sementara itu, warganet lain bercanda, “Tahun depan investasi saja di kebun cabai, lebih untung daripada saham.”
Cabai Jadi Simbol Ketahanan Pangan NTB
Meski kenaikan harga ini bikin pedagang dan konsumen mengelus dada, cabai tetap jadi komoditas strategis di NTB. Pemerintah optimis bisa menjaga keseimbangan antara pasokan dan harga. Jadi, bagi Anda pencinta sambal, siapkan strategi: beli secukupnya, simpan baik-baik, dan nikmati cabai dengan bijak.
Karena di NTB, cabai bukan sekadar bumbu, tapi juga simbol perjuangan di musim penghujan! 🌶️🔥


















