investigasiindonesia.com — Di tengah geliat investasi tambang yang mendominasi perekonomian Nusa Tenggara Barat (NTB), Kota Mataram tampil sebagai anomali yang membanggakan. Tanpa mengandalkan sumber daya mineral sedikit pun, ibu kota provinsi NTB ini justru menjelma menjadi magnet investasi sektor jasa dan perdagangan modern.
Hingga triwulan III tahun 2025, Mataram mencatatkan realisasi investasi senilai Rp1,67 triliun, menempatkannya di tiga besar daerah dengan investasi tertinggi di NTB. Angka tersebut bukan hanya membanggakan, tetapi juga melampaui target RPJMD hingga 145,08 persen dari proyeksi awal Rp1,15 triliun.
“Pencapaian ini menunjukkan bahwa Mataram mampu berdiri sejajar bahkan menonjol di tengah daerah-daerah yang mengandalkan tambang,” ungkap Kepala DPMPTSP Kota Mataram, Amiruddin, Minggu (20/10).
Capaian itu terasa monumental mengingat persaingan regional yang begitu ketat. Kabupaten Sumbawa Barat masih menjadi juara dengan Rp36,3 triliun berkat eksplorasi tambang, disusul Lombok Tengah dengan Rp5,5 triliun yang juga bertumpu pada investasi mineral. Namun di tengah dominasi tambang tersebut, Mataram memilih jalan berbeda — mengandalkan potensi manusia, layanan publik, dan modernisasi sektor jasa.
“Fokus kami adalah memperkuat daya tarik Mataram sebagai kota jasa dan pusat aktivitas ekonomi nontambang. Hasilnya mulai terlihat,” jelas Amiruddin.
Transformasi ini menegaskan posisi Mataram bukan sekadar pusat pemerintahan, tetapi juga poros pertumbuhan ekonomi hijau dan berkelanjutan di NTB. Dengan ekosistem investasi yang makin matang, infrastruktur memadai, serta kemudahan perizinan digital, Mataram kini menjadi destinasi baru bagi investor yang mencari stabilitas dan prospek jangka panjang.
“Ke depan, kami akan terus mendorong sektor-sektor potensial seperti pariwisata, perdagangan, pendidikan, dan layanan kesehatan,” tambahnya.
Tanpa tambang, Mataram membuktikan: pertumbuhan ekonomi bisa tetap gemilang dengan cerdas membaca peluang.


















