banner 728x250
Berita  

Tiga Kelurahan Jadi Pelopor, Mataram Mulai Revolusi Budaya Tertib di Jalan

banner 120x600
banner 468x60

investigasiindonesia.com – Bukan sekadar kampanye, tapi gerakan bersama. Itulah semangat baru yang kini berhembus di tiga kelurahan di Kota Mataram Punia, Jempong Baru, dan Rembiga yang resmi ditetapkan sebagai pilot project “Kelurahan Sadar Lalu Lintas” oleh Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Mataram.

Selama tiga hari (19–21 Agustus), Dishub menggelar Sosialisasi Keselamatan Lalu Lintas dengan melibatkan beragam lapisan masyarakat: mulai dari tokoh agama, karang taruna, komunitas ojek, hingga ibu-ibu PKK. Tujuannya sederhana tapi berdampak besar—membangun kesadaran tertib lalu lintas dari lingkungan paling dekat: kampung sendiri.

banner 325x300

“Tertib lalu lintas bukan sekadar aturan, tapi kesadaran yang tumbuh dari hati dan lingkungan,” kata Kepala Dishub Kota Mataram, Zulkarwin.

Menurutnya, tiga kelurahan tersebut dipilih karena menjadi wilayah dengan mobilitas tinggi, baik siang maupun malam hari. Kondisi ini menjadikannya laboratorium sosial ideal untuk menumbuhkan budaya aman dan tertib di jalan.

Edukasi dari Warga untuk Warga

Berbeda dari sosialisasi biasanya yang bersifat formal, program ini dikemas dengan pendekatan komunitas. Warga diajak berdiskusi, berbagi pengalaman, bahkan membuat kesepakatan bersama tentang cara membangun keselamatan di lingkungannya.

Setiap harinya, tema yang dibahas berbeda. Hari pertama fokus pada pemahaman dasar tertib berlalu lintas; hari kedua membahas risiko dan perlindungan hukum; sementara hari terakhir menjadi momen penandatanganan komitmen bersama antarwarga dan pemerintah.

“Kami ingin masyarakat menjadi pelaku utama, bukan sekadar pendengar,” ujar Zulkarwin.

Empat Lembaga Satu Misi

Program ini juga diperkuat dengan kolaborasi empat lembaga besar: Polresta Mataram, Jasa Raharja, BPTD Mataram, dan Dishub Kota Mataram.
Mereka berbagi peran, mulai dari sosialisasi hukum dan sanksi, manfaat asuransi kecelakaan, hingga pentingnya memahami marka jalan dan simbol transportasi publik.

Pendekatan lintas sektor ini diharapkan menciptakan sinergi nyata antara pemerintah dan masyarakat, sehingga kesadaran keselamatan tidak berhenti di spanduk dan baliho semata.

Dari Kesadaran Menuju Budaya

Puncak kegiatan ditandai dengan penandatanganan komitmen kolektif oleh para lurah dan perwakilan warga. Tanda tangan itu bukan simbol seremonial, tapi janji untuk menjadikan keselamatan sebagai gaya hidup.

Dishub berharap inisiatif ini menjadi titik awal perubahan budaya berkendara di Mataram, dan segera diperluas ke kelurahan lainnya.

“Ketika masyarakat merasa memiliki tanggung jawab terhadap keselamatan, maka Mataram akan tumbuh menjadi kota yang tertib, humanis, dan berdaya saing,” pungkas Zulkarwin.

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *