banner 728x250
Berita  

Drama Mesin Cetak Uang Palsu di Kampus, Dari Impian Bupati hingga Kekacauan Ekonomi

banner 120x600
banner 468x60

Kisah mencengangkan ini menyeret nama Andi Ibrahim (AI), seorang mantan Wakil Dekan di Fakultas Adab UIN Alauddin, yang kini dikenal publik bukan karena prestasi akademiknya, melainkan karena dugaan keterlibatannya dalam sindikat pencetakan uang palsu. Bayangkan, perpustakaan kampus menjadi tempat produksi ilegal uang kertas yang kabarnya dipakai untuk membiayai ambisi politik!

Lokasi yang Mengejutkan
Kasus ini berawal dari laporan sederhana: seseorang mencoba membayar cicilan sepeda motor dengan uang palsu senilai Rp 500.000. Dari situlah, jejak uang palsu membawa polisi ke lantai tiga Perpustakaan Maulana Syekh Yusuf, UIN Alauddin. Mesin cetak buatan Tiongkok bernilai Rp 600 juta ditemukan di sana. Namun, bukan mesin supercanggih seperti yang digunakan Peruri. Ini hanya mesin offset dua warna, tak sebanding dengan harapan AI untuk mencetak uang berkualitas.

banner 325x300

Mengapa Kampus?
AI, seorang akademisi yang pernah menjabat di Fakultas Adab, tampaknya memanfaatkan lokasi strategis ini dengan dalih akademik. Perpustakaan menjadi “markas besar” operasi uang palsu. Tapi, siapa yang menyangka, mesin murahan itu hanya menghasilkan uang dengan biaya cetak Rp 57.000 per lembar—jauh dari efisien!

Ambisi Politik atau Keputusasaan?
Motifnya? AI disebut-sebut berambisi menjadi Bupati Barru, daerah asalnya. Sayangnya, tak ada partai yang bersedia mengusungnya. Bahkan, dana “pelicin” untuk partai politik yang dia sodorkan ternyata palsu. Ketika strategi membeli suara dengan uang palsu terbongkar, publik justru dihibur dengan ironi: suara palsu untuk uang palsu.

Misteri di Balik Nama Besar
Nama lain muncul dalam kasus ini: Annar Salahuddin Sampetoding (ASS), seorang pengusaha terkemuka di Makassar. Annar diduga terlibat, dengan rumahnya di Jalan Sunu disebut sebagai lokasi awal pencetakan uang palsu sebelum operasinya dipindah ke kampus. Namun, peran Annar masih buram. Ia belum memenuhi panggilan polisi, meski namanya menyeruak sebagai sosok berpengaruh dengan koneksi kuat di Sulawesi Selatan.

Mesin Murahan dan Hasil Gagal
Mesin cetak yang digunakan tak lebih dari alat amatiran. Dalam dunia percetakan, mesin dua warna seperti itu lebih cocok untuk brosur murahan, bukan uang palsu. Proses cetak yang memakan waktu dan hasil yang tak presisi membuat operasi ini penuh sampah uang—kertas rusak yang tak layak edar. Sampah ini, siapa tahu, mungkin disimpan atau bahkan dibakar untuk menghilangkan jejak.

Siapa Dalang Sebenarnya?
Polisi telah menetapkan 11 tersangka dari 17 orang yang diperiksa. Namun, teka-teki utama belum terjawab: siapa sebenarnya otak di balik sindikat ini? Benarkah AI dan Annar sepenuhnya terlibat? Atau ada pihak ketiga yang memanfaatkan nama besar mereka untuk melancarkan operasi ini?

Dampak Ekonomi yang Sensitif
Kasus ini lebih dari sekadar skandal kampus. Uang palsu adalah ancaman serius bagi perekonomian. Peredarannya bisa merusak kepercayaan publik terhadap mata uang dan mengacaukan transaksi di masyarakat. Karena itu, penyelesaian kasus ini menjadi mendesak.

Saatnya Membuka Tabir
Publik menuntut transparansi. Polisi harus segera mengungkap siapa pembeli mesin cetak itu, siapa penyandang dana, dan bagaimana operasi ini bisa berjalan di lokasi akademik yang seharusnya steril dari kejahatan semacam ini. Annar juga perlu memenuhi panggilan untuk memberikan klarifikasi.

Ironi Ambisi dan Realitas
Dari ambisi menjadi bupati hingga keterlibatan dalam kasus kriminal, perjalanan AI menjadi pelajaran pahit. Ketika impian politik tak sejalan dengan etika, kejatuhan adalah keniscayaan. Apakah ini akhir bagi AI dan Annar, atau hanya babak pertama dari kisah yang lebih panjang?

Kasus ini menjadi tamparan keras bagi dunia akademik, politik, dan hukum. Jika tak ditangani dengan tuntas, kepercayaan publik terhadap institusi akan semakin terkikis. Polisi, masyarakat menunggu keadilan

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *