banner 728x250

Gerakan dari Kelas: Siswa Mataram Kini Jadi Garda Terdepan Cegah Perundungan

banner 120x600
banner 468x60

investigasiindonesia.com – Upaya menciptakan lingkungan belajar yang aman di Kota Mataram kini memasuki babak baru. Bukan hanya sekolah atau guru yang bergerak, tetapi para siswa sendiri mulai mengambil peran sebagai penggerak utama perubahan budaya anti-perundungan.

Fenomena ini terlihat dari semakin masifnya program pemberdayaan siswa di sejumlah sekolah sebagai respons atas meningkatnya perhatian publik terhadap kasus bullying di kalangan pelajar.

banner 325x300

Kader Siswa Jadi Sistem ‘Alarm Dini’ di SMPN 15 Mataram

SMPN 15 Mataram menjadi salah satu pelopor gerakan ini lewat program “Sekolah Sehat Jiwa”, yang dibina oleh Dinas Sosial Kota Mataram. Dalam program tersebut, siswa khusus direkrut sebagai kader pemantau yang bertugas mendeteksi potensi perundungan sejak dini.

“Mereka menjadi mata dan telinga sekolah. Jika melihat teman yang murung atau mengalami tekanan, mereka segera melapor kepada guru,” jelas Waka Kesiswaan SMPN 15 Mataram, Dewi Tutini Yulianti.

Selain kader pemantau, sekolah juga mengandalkan Duta Anti Perundungan (Dadung) yang melibatkan OSIS sebagai garda depan. Pendekatan persuasif diterapkan penuh di sekolah berbasis Sekolah Ramah Anak ini, tanpa sistem poin pelanggaran.

Aturan Lebih Ketat, Siswa Lebih Berperan di SMPN 10 Mataram

Sementara itu, SMPN 10 Mataram memperkuat sistem pencegahan melalui regulasi internal yang secara khusus mengatur tata cara penanganan bullying. Kepala sekolah Chamim Tohari menegaskan bahwa perlindungan siswa tidak cukup hanya dengan aturan—perlu kolaborasi dan partisipasi aktif dari pelajar.

“Kami ingin meminimalkan segala bentuk kekerasan, baik verbal maupun fisik. Siswa harus merasa aman untuk belajar,” katanya.

Selain memperketat regulasi, SMPN 10 Mataram bekerja sama dengan DP3A Kota Mataram untuk memberikan edukasi langsung kepada siswa terkait keberanian melapor dan membangun solidaritas antar teman sebaya.

Transformasi Budaya: Dari Ketakutan Menjadi Keberanian

Berbagai gerakan dan regulasi tersebut mulai membentuk budaya baru di lingkungan sekolah: budaya saling menjaga. Jika selama ini perundungan dianggap masalah yang disembunyikan, kini siswa justru didorong menjadi jembatan pelaporan dan agen perubahan.

Dengan semakin kuatnya peran siswa, sekolah berharap tercipta lingkungan belajar yang bukan hanya bebas bullying, tetapi juga menumbuhkan rasa saling menghargai.

“Kami ingin membangun budaya positif yang membuat seluruh pelajar merasa aman,” tutup Chamim.

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *