investigasiindonesia.com – Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026, Perum Bulog Kanwil NTB mengubah fokus dari sekadar pemenuhan stok menuju percepatan distribusi dan pengawasan ketat di lapangan. Langkah ini ditempuh untuk meredam potensi lonjakan permintaan serta memastikan harga beras tetap stabil di tengah meningkatnya mobilitas masyarakat pada akhir tahun.
Pemimpin Wilayah Bulog NTB, Mara Kamin Siregar, mengatakan bahwa pihaknya telah menyiapkan strategi distribusi masif guna memastikan kebutuhan pangan masyarakat terpenuhi tanpa hambatan. Meski stok beras saat ini berada dalam kondisi surplus, percepatan penyaluran dianggap sebagai kunci stabilitas menjelang puncak konsumsi.
“Stok tersedia 167.645 ton dan sangat aman hingga 15 bulan ke depan. Namun yang lebih utama adalah memastikan distribusi berjalan lancar agar tidak terjadi kepadatan permintaan di satu titik,” jelas Siregar.
Percepatan Penyaluran Jadi Prioritas
Bulog NTB telah menyalurkan beras Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sebanyak 16.301 ton melalui jaringan pasar tradisional, ritel modern, distributor resmi, hingga kanal penjualan yang bermitra dengan Bulog. Penyaluran yang dipercepat ini diharapkan dapat mengurangi beban di akhir tahun ketika permintaan biasanya melonjak tajam.
Selain SPHP, percepatan penyelesaian Bantuan Pangan (Banpang) juga terus digenjot agar distribusinya rampung sebelum momentum Nataru.
Koordinasi Diperketat untuk Cegah Spekulasi
Untuk mencegah gangguan pasokan, Bulog NTB memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah, Satgas Pangan, serta pemangku kepentingan lain. Kolaborasi ini menitikberatkan pada pengawasan intensif guna menangkal praktik penimbunan dan spekulasi harga yang berpotensi merugikan masyarakat.
Kualitas Beras Dijamin, Pengaduan Ditangani 24 Jam
Wakil Pimpinan Wilayah Perum Bulog NTB, Rizal P. Sukmaadijaya, menegaskan bahwa seluruh beras yang disalurkan telah melalui proses quality control. Jika ditemukan perbedaan kualitas di lapangan, masyarakat dipersilakan melapor.
“Kami siap melakukan penggantian dalam 24 jam apabila ada beras yang kualitasnya kurang sesuai,” ujarnya.
Dengan strategi distribusi agresif, pengawasan ketat, serta jaminan kualitas, Bulog NTB optimistis kebutuhan pangan masyarakat selama Nataru 2026 tetap aman tanpa perlu adanya panic buying.


















