investigasindonesia.com – Di tengah derasnya arus investasi skala besar yang masuk ke Nusa Tenggara Barat (NTB), angka pengangguran justru menunjukkan tren kenaikan. Badan Pusat Statistik (BPS) NTB mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) meningkat dari 2,73 persen pada 2024 menjadi 3,06 persen pada 2025.
Kepala BPS NTB Wahyudin mengungkapkan, kenaikan ini menjadi sinyal bahwa pertumbuhan investasi belum sepenuhnya berbanding lurus dengan penciptaan lapangan kerja. “Ada kenaikan sekitar 0,33 persen,” ujarnya.
Menurut Wahyudin, struktur investasi di NTB saat ini lebih banyak bergerak di sektor padat modal dibanding padat karya. Investasi besar di bidang pertambangan dan smelter seperti PT AMNT dan PT AMIN didominasi oleh belanja barang modal, bukan penyerapan tenaga kerja dalam jumlah besar.
“Nilai investasinya memang triliunan, tapi lebih dari 50 persen itu padat modal. Dampaknya terhadap serapan tenaga kerja relatif kecil,” jelasnya.
Di sisi lain, jumlah angkatan kerja terus bertambah lebih cepat dibanding pembukaan lapangan pekerjaan baru. Tambahan angkatan kerja tercatat mencapai 7–8 persen, sedangkan peningkatan jumlah orang bekerja hanya sekitar 5 persen. Selisih inilah yang kemudian memicu lonjakan pengangguran.
Sektor pariwisata seperti Mandalika diakui mampu menyerap tenaga kerja melalui pembangunan hotel dan fasilitas akomodasi. Namun, serapannya dinilai belum signifikan untuk menahan laju pertumbuhan pengangguran. Sebab, sebagian besar tenaga kerja yang terserap merupakan pekerja yang sudah aktif sebelumnya.
“Kita tidak melihat penyerapan besar-besaran dari angkatan kerja baru,” tambah Wahyudin.
BPS NTB pun mendorong pemerintah daerah untuk mengubah arah kebijakan investasi agar lebih berpihak pada sektor hilirisasi yang bersifat padat karya. Hilirisasi tidak hanya difokuskan pada tambang, tetapi juga sektor pertanian.
Hasil smelter seperti tembaga, emas, dan perak dinilai berpotensi dikembangkan menjadi produk turunan bernilai tambah, termasuk industri kreatif dan perhiasan. Begitu pula dengan sektor pertanian. Dengan proyeksi produksi jagung pipilan kering mencapai 1,7 juta ton pada akhir tahun, NTB dinilai memiliki peluang besar mengembangkan industri pakan ternak.
“Potensinya besar, tetapi kita belum punya industri pakan ternak. Ini peluang yang seharusnya bisa menyerap tenaga kerja sekaligus memperkuat ekonomi daerah,” pungkasnya.


















