investigasiindonesia.com – Lompatan penyaluran kredit di Nusa Tenggara Barat (NTB) hingga Oktober 2025 yang mencapai 26,56 persen ternyata tidak hanya ditopang oleh permintaan pembiayaan, tetapi juga oleh strategi agresif Bank Indonesia (BI) NTB dalam mendorong UMKM naik kelas melalui digitalisasi pencatatan keuangan dan kurasi pembiayaan.
Kepala BI NTB, Hario K Pamungkas, menyebut pertumbuhan kredit yang signifikan ini berjalan beriringan dengan peningkatan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 7,58 persen. Meski demikian, ia menegaskan bahwa kualitas kredit tetap menjadi perhatian utama.
“Secara umum NPL masih terjaga, namun beberapa sektor menunjukkan NPL yang cukup tinggi sehingga tetap perlu kewaspadaan,” ujarnya.
Digitalisasi Pencatatan Jadi Senjata Utama
Alih-alih hanya fokus pada penyaluran kredit, BI NTB kini menempatkan penguatan kapasitas UMKM sebagai fondasi pertumbuhan sektor riil. Dua alat utama yang didorong adalah:
SIAPIK (Sistem Informasi Aplikasi Pencatatan Informasi Keuangan)
Yang berfungsi membantu UMKM mencatat transaksi secara rapi dan digital.
“Pengguna SIAPIK nasional sudah 52.597 user, sementara NTB baru 533 user,” kata Hario.
Platform BISAID
Sebuah direktori berbasis digital berisi profil UMKM yang sudah siap dibiayai.
Melalui platform ini, delapan UMKM di NTB telah memperoleh pembiayaan dengan total Rp258 juta.
Dorong Lebih Bankable, BI Fokus pada Tiga Pilar
BI mengakselerasi program pengembangan UMKM melalui tiga pilar utama:
Korporatisasi
Peningkatan kapasitas
Pembiayaan
Pendekatan ini bertujuan membuat UMKM semakin bankable sehingga bisa masuk ekosistem pembiayaan formal.
Dari Pembiayaan ke Pemasaran Hingga Ekspor
Tak hanya memperkuat akses modal, BI NTB juga aktif membantu pemasaran produk UMKM, termasuk memfasilitasi ekspor.
“Beberapa pelaku UMKM binaan kami sudah konsisten melakukan ekspor ke luar negeri,” tambah Hario.
Upaya ini dinilai menjadi faktor pendukung stabilnya kualitas kredit sekaligus meningkatnya penyerapan pembiayaan sektor riil.


















