Di balik gemerlapnya lampu lalu lintas Kota Mataram, pemandangan unik kerap terlihat. Para badut jalanan dengan kostum ceria menghiasi perempatan, mencoba menghibur pengendara sembari berharap mendapatkan imbalan. Namun, kehadiran mereka di jalan raya kerap menimbulkan persoalan, dari potensi mengganggu lalu lintas hingga risiko keselamatan. Menyadari hal ini, Satuan Tugas (Satgas) Dinas Sosial (Dinsos) Kota Mataram turun tangan dengan pendekatan strategis untuk menertibkan para badut tersebut.
Menurut Kepala Dinsos Kota Mataram, Lalu Samsul Adnan, operasi penertiban dilakukan rutin dengan berbagai cara. “Kita bahkan menyamar menjadi pengendara untuk memastikan para badut ini tidak meloloskan diri,” ungkapnya. Penertiban ini dilakukan tidak hanya untuk menegakkan aturan, tetapi juga demi keamanan mereka sendiri.
Samsul menekankan bahwa lokasi perempatan jalan sangat berisiko, baik bagi badut maupun pengguna jalan lainnya. Oleh karena itu, pihaknya mengarahkan mereka untuk beraktivitas di lokasi yang lebih aman. “Kami sudah beberapa kali menertibkan, dan mereka yang tertangkap biasanya berasal dari berbagai daerah, seperti Lingsar, Lombok Barat, bahkan luar NTB,” jelasnya.
Penanganan Manusiawi dan Kolaboratif
Langkah awal penertiban adalah memberikan teguran dan peringatan. Jika ditemukan kembali, tindakan tegas dilakukan dengan memulangkan mereka ke rumah masing-masing. “Untuk yang berasal dari luar daerah, kami bekerja sama dengan Dinsos Provinsi NTB dan memfasilitasi pemulangan ke daerah asal mereka, termasuk Jawa,” ujar Samsul.
Pendekatan humanis ini juga melibatkan kepala dusun atau perangkat desa setempat, terutama untuk memastikan mereka mendapatkan pengawasan lebih lanjut di komunitas asal. “Ketika kita antar pulang, kita pastikan keluarganya tahu, dan ini menjadi langkah preventif agar mereka tidak kembali ke jalanan,” tambahnya.
Pemantauan Ketat di Lokasi Strategis
Beberapa lokasi yang sering menjadi “pangkalan” badut jalanan seperti simpang empat Sweta, Rembiga, dan Pagesangan terus diawasi. Operasi juga diperluas hingga kegiatan Car Free Day (CFD) di Jalan Udayana. “Di CFD terakhir, kami menemukan tiga badut dan langsung meminta mereka mengganti baju di tempat,” tegas Samsul.
Meski operasi dilakukan rutin, tantangan tetap ada. Para badut sering kali menyamar sebagai warga biasa sebelum mengenakan kostum di lokasi target. “Ini membuat pengawasan menjadi lebih sulit karena kita tidak bisa memantau mereka dari rumah,” ujarnya.
Komitmen Berkelanjutan untuk Kota yang Aman dan Nyaman
Dinsos Kota Mataram berkomitmen menjaga keamanan dan kenyamanan kota. Program penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) juga terus dioptimalkan. Selain penertiban, pihaknya mengedukasi masyarakat untuk tidak mendukung aktivitas badut di jalan dengan memberi imbalan.
Langkah-langkah yang diambil Pemkot Mataram menjadi bukti nyata bagaimana regulasi dapat berjalan seiring dengan pendekatan manusiawi. Kota yang aman dan nyaman adalah tanggung jawab bersama, dan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan komunitas adalah kuncinya.
Dengan komitmen ini, Mataram tidak hanya menjadi kota yang indah secara visual, tetapi juga tertata dan aman bagi semua warganya


















