investigasiindonesia.com – Komitmen SMPN 14 Mataram sebagai sekolah inklusi tidak hanya diwujudkan melalui penerimaan siswa Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), tetapi juga lewat upaya membangun budaya empati dan toleransi di lingkungan sekolah. Melalui pendidikan inklusif, sekolah ini mendorong terciptanya ruang belajar yang menghargai perbedaan dan menjunjung kesetaraan.
Sebagai sekolah reguler dengan layanan inklusi, SMPN 14 Mataram secara konsisten membuka akses pendidikan bagi siswa ABK setiap tahun ajaran. Langkah ini menjadi bagian dari upaya sekolah memastikan seluruh anak mendapatkan hak pendidikan yang sama tanpa diskriminasi.
Kepala SMPN 14 Mataram, Lina Yeti Budiasih, menegaskan bahwa keberadaan siswa ABK bukan sekadar pemenuhan regulasi, melainkan bagian penting dalam membentuk ekosistem pendidikan yang sehat dan berkeadilan. Lingkungan sekolah, kata dia, harus mampu menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi semua siswa.
“Kami ingin sekolah menjadi ruang belajar bersama yang saling menghargai. Siswa inklusi adalah bagian dari keluarga besar SMPN 14 Mataram dan harus merasa diterima,” ujar Lina, Senin (12/1).
Dalam praktiknya, setiap siswa ABK mendapatkan pendampingan personal sesuai dengan jenis ketunaan dan kebutuhan belajarnya. Pendekatan ini dilakukan agar siswa inklusi dapat mengikuti proses pembelajaran secara optimal tanpa merasa terpinggirkan.
Pendidikan inklusif di SMPN 14 Mataram juga diarahkan untuk membentuk karakter siswa lainnya. Interaksi sehari-hari dengan siswa ABK dinilai mampu menumbuhkan sikap empati, kepedulian, dan kepekaan sosial di kalangan peserta didik.
Untuk menunjang hal tersebut, para guru dibekali pelatihan khusus agar mampu menangani siswa berkebutuhan khusus secara profesional. Dengan dukungan tenaga pendidik yang memahami konsep inklusi, sekolah berharap proses pembelajaran dapat berlangsung tanpa stigma dan diskriminasi.
“Guru kami terus kami dorong untuk belajar dan beradaptasi. Tujuannya agar semua siswa, baik reguler maupun inklusi, merasa nyaman dan dihargai di lingkungan sekolah,” pungkas Lina.


















