investigasiindonesia.com – Banjir yang kembali melanda wilayah Sekotong Tengah tidak hanya meninggalkan lumpur di ruang-ruang kelas, tetapi juga kembali mengganggu hak ratusan siswa untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Akibat banjir tersebut, aktivitas belajar mengajar di SDN 1 Sekotong Tengah, Kecamatan Sekotong, dihentikan sementara sejak Rabu (14/1).
Sekolah dasar yang berada di dekat simpang tiga Sekotong Tengah itu terpaksa meliburkan seluruh siswa karena kondisi ruang kelas tidak memungkinkan untuk digunakan. Air banjir yang masuk hingga ke dalam ruangan meninggalkan endapan lumpur tebal di lantai dan perabot sekolah.
Kepala SDN 1 Sekotong Tengah, Zulkifli, mengatakan penghentian sementara kegiatan belajar dilakukan demi keselamatan dan kenyamanan siswa. Proses pembersihan diperkirakan membutuhkan waktu dua hingga tiga hari.
“Setiap tahun kami selalu menghadapi kondisi seperti ini. Ruang kelas penuh lumpur, jadi anak-anak terpaksa kami liburkan sementara,” ujarnya.
Banjir yang terjadi hampir setiap musim hujan ini menjadi persoalan kronis bagi sekolah tersebut. Selain mengganggu proses pembelajaran, kondisi ini juga menambah beban guru dan pihak sekolah yang harus bergotong royong membersihkan fasilitas pendidikan secara mandiri.
Kekhawatiran akan banjir susulan juga masih membayangi. Cuaca yang belum stabil membuat pihak sekolah belum berani memastikan kapan kegiatan belajar mengajar bisa kembali normal.
“Kami masih was-was. Kalau hujan deras turun lagi, bisa saja air kembali masuk ke kelas,” kata Zulkifli.
Menurutnya, faktor geografis menjadi penyebab utama banjir. Letak sekolah yang lebih rendah dari lingkungan sekitar, dekat dengan aliran sungai, serta adanya pengaruh banjir rob membuat air dari perbukitan mudah menggenangi kawasan Sekotong Tengah.
Kondisi tersebut semakin terasa berat mengingat SDN 1 Sekotong Tengah saat ini menampung sekitar 387 siswa dengan 13 rombongan belajar. Keterbatasan ruang kelas bahkan memaksa pihak sekolah memanfaatkan aula yang awalnya direncanakan sebagai musala untuk kegiatan belajar.
“Kami kekurangan ruang kelas. Aula yang seharusnya menjadi musala terpaksa digunakan sebagai ruang belajar,” ungkapnya.
Zulkifli menambahkan, pihak sekolah telah berulang kali mengusulkan rehabilitasi gedung kepada pemerintah, termasuk peninggian pondasi dan pembangunan gedung bertingkat sebagai solusi jangka panjang. Namun hingga kini, usulan tersebut belum mendapat tindak lanjut.
“Kami berharap ada perhatian serius dari pemerintah. Banjir yang terus berulang ini bukan hanya soal bangunan, tapi juga menyangkut masa depan pendidikan anak-anak kami,” pungkasnya.


















