investigasiindonesia.com — Cuaca ekstrem yang melanda wilayah pesisir Lombok Barat berdampak serius terhadap kehidupan nelayan Desa Taman Ayu, Kecamatan Gerung. Sebanyak 137 kepala keluarga (KK) terpaksa menghentikan aktivitas melaut selama hampir satu bulan akibat hujan deras dan angin kencang yang terus berlangsung.
Kepala Desa Taman Ayu, Tajudin, mengatakan warga pesisir menjadi kelompok yang paling merasakan dampak kondisi tersebut. Selain kehilangan mata pencaharian, abrasi pantai mengancam keselamatan rumah-rumah warga. “Rumah warga nyaris roboh akibat abrasi. Bahkan sekitar 60 hektare lahan pesisir sudah terkikis,” ujarnya.
Ironisnya, keberadaan pemecah ombak di sekitar PLTU Jeranjang justru disebut mempercepat pengikisan pantai di sisi selatan. Kondisi ini diperparah dengan rusaknya jalan desa akibat truk bermuatan berat yang melintas setiap hari.
Ketua Kelompok Nelayan, Lalu Ahmad, mengungkapkan sebagian warga terpaksa beralih profesi sementara sebagai kuli bangunan atau pemulung plastik demi memenuhi kebutuhan keluarga. “Kami sangat berharap bantuan pemerintah terus berlanjut, karena kondisi ini benar-benar sulit,” katanya.
Merespons situasi tersebut, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini (LAZ) turun langsung ke Dusun Taman bersama BPBD, Dinas Sosial, dan Dinas Kelautan. Pemerintah daerah menyalurkan bantuan logistik berupa 200 paket beras, telur, mi instan, minyak goreng, gula, terpal, selimut, makanan anak, dan kebutuhan pokok lainnya.
“Kami hadir memastikan pemerintah tidak tinggal diam. Bantuan ini memang belum mencukupi semua kebutuhan, tetapi ini bukti kepedulian kami,” tegas Bupati LAZ.
Ia juga menegaskan akan segera bersurat kepada pemerintah provinsi dan pusat terkait penanganan abrasi, mengingat kewenangan berada di level tersebut. Sementara untuk kerusakan jalan akibat kendaraan bertonase besar, Bupati memerintahkan camat Gerung memfasilitasi pertemuan dengan pihak perusahaan terkait guna membatasi muatan angkutan agar tidak semakin merusak infrastruktur desa.


















