investigasiindonesia.com – Banjir besar yang melanda Desa Kabul, Kecamatan Praya Barat Daya, Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) pada 14 Januari lalu tidak hanya menyisakan genangan, tetapi juga trauma mendalam bagi warga. Delapan dusun terdampak dan 337 kepala keluarga harus menghadapi kerugian serta ketidakpastian akibat banjir yang terus berulang setiap tahun.
Sebagai bentuk keprihatinan sekaligus upaya mencari solusi, puluhan warga Desa Kabul mendatangi kantor DPRD NTB, Senin (27/1). Mereka diterima Anggota Komisi IV DPRD NTB dan menyampaikan keresahan terkait banjir yang dipicu luapan Bendungan Pengga serta sedimentasi sungai dari Dusun Kending Sampi hingga Dusun Kangas.
Kepala Desa Kabul, Sahurim, menegaskan bahwa pendangkalan sungai sepanjang sekitar 4,5 kilometer menjadi penyebab utama meluapnya air hingga merendam ratusan rumah warga. “Setiap tahun kami selalu kebanjiran. Ini bukan lagi persoalan sementara, tapi sudah menjadi ancaman rutin bagi keselamatan dan kehidupan warga,” ujarnya.
Ia meminta Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) segera melakukan pengerukan sedimentasi sungai dan Dam Pengga, serta membangun tanggul sebagai langkah pencegahan jangka panjang. Menurutnya, penanganan cepat sangat dibutuhkan agar warga tidak terus hidup dalam bayang-bayang banjir.
Sekretaris Komisi IV DPRD NTB, Hasbullah Muis Konco, menekankan bahwa penanganan Bendungan Pengga dan sungai merupakan kewenangan BBWS. Ia mendesak agar pihak terkait segera turun ke lapangan. “Kalau terus ditunda, persoalan ini tidak akan pernah selesai,” tegasnya.
Wakil Ketua Komisi IV, Sudirsah Sujanto, menambahkan bahwa Gubernur NTB telah memberikan instruksi langsung kepada OPD terkait untuk merespons cepat dampak banjir di Desa Kabul. Ia menilai perlu ada pemetaan penanganan jangka pendek dan jangka panjang agar persoalan banjir tidak terus berulang.
Sementara itu, Sekretaris Dinas PUPRPKP NTB, Ilham Ardiansyah, menyampaikan bahwa pihaknya telah menurunkan alat berat berupa ekskavator untuk penanganan sementara. Namun, alat tersebut juga digunakan di lokasi banjir lain di Lombok Barat, sehingga penanganan di Desa Kabul dilakukan secara bertahap.
Warga berharap, dengan perhatian serius dari DPRD, BBWS, dan pemerintah daerah, banjir tahunan di Desa Kabul dapat segera ditangani secara permanen demi keamanan dan kenyamanan hidup masyarakat.


















