banner 728x250
Berita  

Inflasi NTB Lampaui Nasional, Mataram Deflasi, Sumbawa Tertinggi

banner 120x600
banner 468x60

investigasiindonesia.com – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Januari 2026 sebesar 0,27 persen dengan inflasi tahunan (year on year/yoy) mencapai 3,86 persen. Angka ini melampaui rata-rata inflasi nasional dan menjadi sinyal awal tekanan harga di NTB.

Namun, gambaran inflasi di daerah tidak seragam. Kota Mataram justru mencatatkan deflasi bulanan sebesar 0,21 persen. Sebaliknya, Kabupaten Sumbawa menjadi wilayah dengan inflasi tertinggi di NTB, mencapai 0,80 persen, disusul Kota Bima sebesar 0,61 persen.

banner 325x300

“Inflasi di Kabupaten Sumbawa jauh di atas angka provinsi. Ini menunjukkan adanya disparitas harga antarwilayah yang perlu mendapat perhatian khusus,” ujar Ketua Tim Statistik Harga BPS NTB, M Ahyar, Senin (2/2).

BPS mencatat lonjakan harga emas perhiasan menjadi penyumbang inflasi terbesar, dengan andil mencapai 0,18 persen dari total inflasi bulanan. Selain itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau turut memberi tekanan, terutama akibat naiknya harga komoditas perikanan seperti ikan layang, bandeng, dan teri.

Cuaca buruk di perairan NTB sepanjang Januari disebut sebagai penyebab minimnya pasokan ikan di pasar, sehingga mendorong kenaikan harga dan memperlemah daya beli masyarakat.

Di sisi lain, sektor transportasi justru menjadi penahan inflasi. Kelompok ini mencatatkan deflasi 0,7 persen, dipicu kebijakan diskon tiket angkutan udara. Sejumlah komoditas hortikultura seperti cabai rawit, cabai merah, dan bawang merah juga mulai mengalami penurunan harga setelah sempat melonjak pada akhir 2025.

Meski demikian, tren tahunan inflasi sebesar 3,86 persen tergolong tinggi jika dibandingkan Januari 2025 yang justru mengalami deflasi (-0,55 persen) akibat kebijakan tarif listrik kala itu.

Pemerintah daerah diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama menjelang Ramadan dan Idul Fitri yang secara historis menjadi periode puncak kenaikan harga. “Inflasi Januari ini harus menjadi warning. Intervensi pasar perlu diperkuat agar daya beli masyarakat tetap terjaga,” tegas Ahyar.

Pantauan di pasar tradisional menunjukkan kenaikan harga pangan mulai terjadi. Cabai rawit kini menembus Rp 70 ribu per kilogram, naik signifikan dari sebelumnya Rp 30–40 ribu.

Kepala Bidang Bahan Pokok dan Penting Dinas Perdagangan Kota Mataram, Sri Wahyunida, menyebut lonjakan harga dipicu terbatasnya pasokan lokal serta belum masuknya distribusi dari Pulau Jawa. “Permintaan tinggi, sementara pasokan terbatas. Ini membuat harga sulit dikendalikan di tingkat pedagang,” ujarnya.

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *