investigasiindonesia.com – Warga Desa Lembar Selatan kini menghadapi tekanan baru, bukan karena kelangkaan distribusi, melainkan karena elpiji 3 kilogram yang dirasakan lebih cepat habis dari biasanya. Kondisi ini berdampak langsung pada aktivitas ekonomi warga, terutama pelaku usaha mikro dan nelayan.
Kepala Desa Lembar Selatan, Muh. Saleh, menyampaikan bahwa keluhan tersebut muncul dari hasil survei langsung ke masyarakat. Warga mengaku frekuensi penggantian tabung gas melon semakin sering, sehingga menambah beban pengeluaran rumah tangga.
“Permintaan sangat tinggi. Warga merasa gas elpiji 3 kg cepat sekali habis, bahkan ada dugaan volumenya kurang dari standar,” ujar Saleh saat mendampingi inspeksi mendadak Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini ke SPPBE Lembar, Rabu (4/2).
Menurutnya, sebagian warga telah melakukan penimbangan mandiri dan menemukan indikasi isi tabung tidak sesuai ekspektasi. Meski faktor pemakaian intensif juga diakui, kondisi ini tetap menimbulkan keresahan karena berdampak langsung pada produktivitas usaha kecil.
Selain itu, Saleh menyoroti pentingnya menjaga stabilitas pasokan. Wilayah Lembar Selatan sangat bergantung pada jalur laut dari Jawa, yang rawan terganggu saat cuaca ekstrem, terutama pada musim angin kencang.
“Kami mohon distributor dan pemerintah daerah benar-benar menjaga stok elpiji. Jangan sampai masyarakat kembali kesulitan, apalagi menjelang hari besar,” tegasnya.
Pemerintah desa kini meningkatkan pengawasan di tingkat pangkalan untuk memastikan harga dan volume elpiji tetap sesuai aturan, demi menjaga ketenangan dan keberlangsungan usaha warga Lembar Selatan.


















