investigasiindonesia.com – Dinas Kesehatan (Dikes) Lombok Tengah mencatat sebanyak 44 anak diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam beberapa bulan terakhir. Temuan ini mendorong penguatan standar pengawasan di seluruh dapur MBG agar kejadian serupa tidak terulang.
Kepala Dikes Lombok Tengah, H Suardi MM, menegaskan bahwa seluruh proses penyediaan makanan harus diawasi secara ketat, mulai dari pemilihan bahan segar, penyimpanan pada suhu yang tepat, hingga proses memasak yang matang sempurna dan distribusi yang cepat. Selain itu, para penjamah makanan diwajibkan menerapkan standar kebersihan dengan menggunakan alat pelindung diri (APD).
“Pada prinsipnya, bahan makanan harus dibersihkan, dipisahkan, dimasak dan didinginkan sesuai prosedur. Itu wajib diterapkan untuk menjamin keamanan pangan, sekaligus memastikan kandungan gizi seimbang sesuai petunjuk teknis,” ujarnya, Rabu (11/2).
Dikes juga menyoroti pentingnya sertifikasi penjamah makanan bagi seluruh pengelola dapur MBG. Dari data yang ada, sebanyak 39 kasus tercatat di MBG Darmaji dan lima kasus di Pringgarata. Menurut Suardi, ketiadaan sertifikat dapat meningkatkan risiko kesalahan dalam penyajian makanan yang sehat dan aman.
Saat ini, tercatat 121 dapur MBG di Lombok Tengah telah mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Sertifikat tersebut menjadi syarat penting dalam menjamin mutu dan keamanan makanan yang disajikan kepada para penerima manfaat.
“Pengurusan izin SLHS tidak dipungut biaya, hanya ada pemeriksaan kualitas air dan persyaratan teknis lainnya. Ini demi melindungi kesehatan anak-anak sebagai penerima program,” tegasnya.


















