investigasiindonesia.com – Di tengah dinamika ekonomi 2025 yang sempat tertekan akibat koreksi sektor pertambangan pada paruh pertama tahun, kabar menggembirakan justru datang dari indikator sosial. Angka kemiskinan di Nusa Tenggara Barat (NTB) berhasil ditekan secara signifikan.
Data September 2025 mencatat jumlah penduduk miskin NTB sebesar 637,18 ribu orang. Angka ini turun 17,39 ribu orang dibandingkan Maret 2025. Secara persentase, tingkat kemiskinan menyusut menjadi 11,38 persen, atau berkurang sekitar 0,40 poin.
Tak hanya itu, NTB juga masuk dalam 9 besar provinsi dengan penurunan kemiskinan tertinggi secara nasional pada 2025. Capaian ini dinilai bukan sekadar fluktuasi statistik, melainkan refleksi dari daya tahan sosial masyarakat di tengah tekanan ekonomi.
Kontras dengan Tekanan Sektor Tambang
Paruh awal 2025 sempat diwarnai perlambatan, terutama akibat koreksi pada sektor pertambangan yang selama ini menjadi salah satu penopang ekonomi daerah. Namun, pelemahan tersebut tidak serta-merta menyeret indikator kesejahteraan ke arah negatif.
Sebaliknya, tren penurunan kemiskinan menunjukkan bahwa struktur ekonomi NTB semakin bertumpu pada sektor-sektor yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat, seperti pertanian, perdagangan, dan usaha mikro kecil menengah (UMKM).
Penguatan ekonomi berbasis kerakyatan ini diyakini menjadi bantalan penting yang menjaga daya beli dan ketahanan rumah tangga.
Bukan Sekadar Angka
Penurunan 17,39 ribu jiwa berarti ribuan keluarga berhasil keluar dari garis kemiskinan dalam kurun waktu enam bulan. Artinya, ada perbaikan nyata dalam akses pendapatan, lapangan kerja, maupun perlindungan sosial.
Capaian ini juga memberi sinyal bahwa intervensi kebijakan sosial dan program pengentasan kemiskinan yang dijalankan pemerintah daerah mulai menunjukkan hasil konkret.
Momentum Penguatan
Meski capaian ini patut diapresiasi, tantangan ke depan tetap ada. Fluktuasi global, stabilitas harga komoditas, hingga ketahanan sektor riil menjadi faktor yang perlu terus diantisipasi.
Namun setidaknya, di tengah tekanan ekonomi 2025, NTB membuktikan satu hal penting: ketika satu sektor melemah, fondasi sosial yang kuat mampu menjaga keseimbangan.
Penurunan kemiskinan ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat kebijakan pembangunan yang inklusif, agar tren positif tidak hanya bertahan, tetapi terus meningkat pada periode berikutnya.


















