investigasiindonesia.com – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) semakin tajam dalam membongkar jaringan gratifikasi yang melibatkan mantan Bupati Kutai Kartanegara (Kukar), Rita Widyawati. Dalam langkah lanjutan yang mengejutkan, tim penyidik melakukan penggeledahan di kediaman Ketua Pemuda Pancasila (PP), Japto Soerjosoemarno, dan politisi Partai Nasdem, Ahmad Ali, pada Selasa malam. Operasi ini menjadi babak baru dalam pengungkapan aliran uang yang diduga terkait dengan kasus gratifikasi Rita.
Juru Bicara KPK, Tessa Mahardhika Sugiarto, mengonfirmasi bahwa penggeledahan tersebut berkaitan dengan penyidikan kasus gratifikasi Rita Widyawati. Selama enam jam penyisiran di kediaman Japto, penyidik menyita sebelas mobil mewah, sejumlah uang dalam berbagai mata uang, serta beberapa barang bukti elektronik yang diyakini memiliki keterkaitan dengan aliran dana yang sedang diselidiki.
Selain rumah Japto, penyidik juga mendatangi kediaman Ahmad Ali di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Dari lokasi ini, KPK mengamankan dokumen-dokumen penting, barang elektronik, serta sejumlah uang tunai dalam berbagai nominal. Tas dan jam tangan dengan nilai fantastis turut diamankan dalam proses ini.
Sementara itu, belum ada keterangan detail dari KPK mengenai keterlibatan langsung Japto dan Ahmad Ali dalam perkara ini. Namun, penyitaan barang-barang mewah ini menandakan adanya upaya serius untuk menelusuri ke mana saja aliran dana hasil gratifikasi mengalir. KPK masih terus mengembangkan kasus ini, mengingat pada Januari lalu, lembaga antirasuah tersebut telah menyita uang dalam jumlah besar dari Rita Widyawati.
Sebanyak Rp 350 miliar dari 36 rekening yang terafiliasi dengan Rita telah disita. Tak hanya itu, uang dalam bentuk USD 6,2 juta atau sekitar Rp 102 miliar serta dua juta dolar Singapura yang setara dengan Rp 23,7 miliar turut diamankan. Angka ini menambah panjang daftar aset yang kini berada dalam pengawasan KPK.
Penyelidikan ini menunjukkan bagaimana praktik gratifikasi dan pencucian uang dalam lingkaran kekuasaan bisa melibatkan banyak pihak. Langkah yang dilakukan KPK menjadi sinyal bahwa upaya pemberantasan korupsi terus bergerak tanpa pandang bulu. Perkembangan lebih lanjut dari kasus ini akan menjadi sorotan, terutama jika KPK mulai membuka keterkaitan antara aliran dana tersebut dengan aktor-aktor lain yang mungkin terlibat.


















