Kota Mataram terancam mengalami krisis daging sapi menyusul penghentian sementara pengiriman sapi dari Pulau Sumbawa. Kebijakan ini diambil setelah terdeteksinya penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak di wilayah tersebut. Situasi semakin kritis karena pasokan lokal tidak mampu mencukupi kebutuhan masyarakat yang terus meningkat, terutama menjelang akhir tahun.
Plt Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kota Mataram, H. Irwan Harimansyah, mengungkapkan bahwa pembentukan tim analisa risiko untuk mengatasi krisis ini membutuhkan proses panjang. “Kita harus berhati-hati. Banyak pihak terlibat, mulai dari pemerintah daerah hingga pusat. Kita ingin memastikan tidak ada risiko penyebaran PMK jika sapi dari luar daerah dimasukkan,” ujarnya, Minggu (24/11).
Namun, para jagal dan pedagang daging mengaku kian resah. Lebih dari dua minggu tidak ada pengiriman ternak dari Pulau Sumbawa, membuat aktivitas pemotongan terhenti dan pendapatan mereka menurun drastis. “Kami butuh solusi cepat. Sapi lokal yang ada sudah hampir habis,” keluh seorang jagal.
Menurut data Dinas Pertanian, stok sapi di Lombok Tengah hanya tersisa 94 ekor, sementara kebutuhan daging sapi di Kota Mataram mencapai 7,8 ton per minggu. Jika tidak ada pengiriman baru, stok ini diperkirakan habis dalam beberapa hari ke depan. “Ini jelas tidak cukup sampai akhir tahun, apalagi banyak acara besar di penghujung tahun yang membutuhkan konsumsi daging sapi dalam jumlah besar,” tambah Irwan.
Pejabat Otoritas Vateriner, drh. M. Irfan Sabri, menyatakan pihaknya tengah berupaya mempercepat proses analisa risiko untuk memungkinkan pengiriman sapi dari Sumbawa kembali dibuka. “Kami bekerja sama dengan Dinas Peternakan Provinsi NTB dan hari ini rancangan analisa risiko harus selesai,” tegasnya.
Sementara itu, opsi mendatangkan sapi dari Jawa dan Bali sedang dipertimbangkan, tetapi membutuhkan regulasi yang jelas. “Impor sapi memang bisa jadi solusi, tetapi prosedurnya tidak mudah. Harus ada koordinasi lintas wilayah,” kata Irwan.
Krisis ini tidak hanya berdampak pada ketersediaan daging sapi, tetapi juga harga di pasar. Beberapa pedagang mulai melaporkan kenaikan harga karena pasokan yang semakin menipis. Warga Mataram pun mulai khawatir akan kelangkaan daging sapi untuk kebutuhan sehari-hari dan acara khusus.
Jika situasi ini tidak segera teratasi, Kota Mataram menghadapi ancaman serius terhadap stabilitas pasokan pangan hewani, terutama menjelang perayaan akhir tahun yang tinggal beberapa minggu lagi. Semua pihak berharap langkah cepat dan tepat dari pemerintah bisa segera mengatasi krisis ini sebelum dampaknya semakin meluas.


















