investigasiindonesia.com – Gempar! Dua seri ajang balap motorcross MXGP 2025 secara resmi dicoret dari kalender event Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Keputusan Federasi Motor Internasional (FIM) ini memastikan NTB tidak lagi menjadi tuan rumah untuk tahun depan. Namun, di balik kabar ini, terselip fakta mengejutkan: pelaku pariwisata NTB justru bersorak!
“Ada atau tidak ada MXGP, bagi kami sama saja!” tegas Sahlan M Saleh, Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (NTB), dengan nada tegas saat diwawancarai Radar Lombok. Pernyataan ini langsung menjadi viral, mengundang pro-kontra di media sosial.
Fakta mengejutkan terungkap: meski digadang-gadang sebagai event internasional, MXGP ternyata tidak membawa dampak signifikan bagi industri wisata NTB. Data dari pelaku usaha mengonfirmasi bahwa tidak ada lonjakan tamu, okupansi hotel tetap rendah, dan pemesanan akomodasi lebih banyak dilakukan langsung tanpa melibatkan agen perjalanan.
“Kalau hanya 40–50 wisatawan asing yang datang, bagaimana bisa disebut sukses? Jangankan untung, balik modal saja tidak!” ujar Sahlan dengan nada blak-blakan.
Yang lebih mencengangkan, klaim penyelenggara bahwa MXGP sukses menarik wisatawan mancanegara ternyata hanya mitos. Faktanya, penonton didominasi warga lokal, bukan turis asing. “Event internasional harusnya mendatangkan pengunjung dari berbagai negara. Ini malah seperti festival rakyat,” tambahnya.
Tapi jangan salah! Meski dinilai gagal di sektor pariwisata, MXGP ternyata sempat menggerakkan UMKM lokal. Pedagang makanan dan cenderamata di sekitar venue mengaku mendapat keuntungan dari keramaian penonton. Namun, Sahlan menegaskan, dampaknya tetap tidak sebanding dengan anggaran miliaran rupiah yang dikeluarkan.
Kini, NTB sedang mematangkan rencana besar: mencari pengganti MXGP dengan event yang lebih berdampak positif. Gubernur NTB disebut sedang merancang strategi baru melalui jejaring kolaborasi. “Kami butuh event yang benar-benar mendongkrak wisata, bukan sekadar seremonial,” tegas Sahlan.
Kabarnya, beberapa ide spektakuler sedang digodok, termasuk festival budaya bertaraf dunia dan ajang olahraga yang lebih relevan dengan potensi alam NTB. Satu hal yang pasti: NTB siap bangkit tanpa MXGP!
Reaksi netizen pun meledak! Sebagian mendukung keputusan ini, sementara yang lain mempertanyakan efektivitas kebijakan pariwisata NTB. Bagaimana tanggapan Anda?


















