investigasiindonesia.com – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, baru saja mengguncang pasar global dengan mengumumkan tarif impor baru yang menargetkan puluhan negara, termasuk Indonesia. Dalam pidato spektakulernya di Rose Garden, Trump menyebut langkah ini sebagai “Deklarasi Kemerdekaan Ekonomi Amerika”, sebuah momen bersejarah yang ia klaim akan mengembalikan lapangan kerja ke AS. Namun, yang bikin heboh adalah besaran tarifnya—mulai dari 10% hingga hampir 50%, dengan Indonesia kena pukulan 32%!
“Selama ini, Amerika diperlakukan buruk. Mereka menipu kita dengan tarif tidak adil. Sekarang, kami balas dengan setengahnya saja—masih murah!” seru Trump dengan nada penuh keyakinan. Tiongkok kena 34%, Vietnam dibebani 46%, bahkan sekutu seperti Jepang dan Korea Selatan tak luput dari “serangan” ini. Reaksi dunia pun langsung memanas, dengan ancaman perang dagang yang bisa picu inflasi global.
Tapi di tengah kekhawatiran banyak pihak, Menteri Keuangan AS Scott Bessent justru mengeluarkan pernyataan mengejutkan: “Jangan balas dendam! Kalau kalian eskalasi, harga-harga bisa meledak dan semua rugi.” Pesannya jelas—AS tak ingin situasi makin kacau, meski tarifnya sendiri sudah bikin gempar.
Yang bikin analis finansial garuk-garuk kepala adalah strategi Trump yang disebut “setengah hati”. Alih-alih membalas tarif dengan jumlah sama, AS justru memilih angka lebih rendah. “Ini bukan reciprocity (timbal balik), tapi kami sengaja beri keringanan,” ujar Trump. Namun, ia juga menyindir, “Dalam perdagangan, terkadang kawan lebih berbahaya daripada lawan.”
Negara-negara yang kena imbas kini dihadapkan pada pilihan sulit: ikuti aturan AS atau hadapi konsekuensi lebih besar. Sementara itu, pasar saham global mulai menunjukkan gejolak, dan para ekonom memprediksi gelombang inflasi jika perang dagang benar-benar pecah.
Satu hal yang pasti—keputusan Trump ini bukan cuma soal uang, tapi juga pesan politik keras: AS tak mau lagi jadi “korban” dalam perdagangan global. Dan dunia? Hanya waktu yang bisa jawab apakah kebijakan kontroversial ini akan jadi awal kejayaan ekonomi AS… atau malah bencana bagi semua!


















