banner 728x250

Mewujudkan Rinjani yang Lebih Berkualitas, Dukungan untuk Kuota Pendakian dengan Pendekatan Berkelanjutan

banner 120x600
banner 468x60

investigasiindonesia.com – Komunitas pecinta alam dan pelaku wisata di Lombok menyambut positif wacana penambahan kuota pendakian Gunung Rinjani, dengan syarat kebijakan tersebut dirancang secara matang untuk menjaga keberlanjutan ekologi dan kesejahteraan masyarakat lokal. Forum Wisata Lingkar Rinjani (FWLR) menegaskan bahwa peningkatan jumlah pendaki harus sejalan dengan peningkatan kualitas layanan, harga yang adil, serta perlindungan terhadap lingkungan dan pekerja pariwisata.

Ketua FWLR, Royal Sembahulun, menyatakan bahwa selama ini, Rinjani kerap dipasarkan dengan harga yang terlalu rendah, sehingga berdampak pada kesejahteraan pemandu dan porter. “Kami tidak ingin penambahan kuota justru memperburuk kondisi. Rinjani harus menjadi destinasi yang eksklusif, di mana kualitas lebih diutamakan daripada kuantitas,” ujarnya.

banner 325x300

Data menunjukkan bahwa Rinjani termasuk salah satu gunung favorit bagi wisatawan mancanegara, namun harganya masih jauh lebih murah dibandingkan destinasi serupa di Indonesia. Royal menekankan bahwa jika kuota ditambah, harus ada mekanisme yang menjamin kenaikan tarif layak bagi pekerja lapangan. “Pemandu dan porter seharusnya bisa mendapat penghasilan cukup meski hanya mendaki beberapa kali sebulan, bukan bekerja puluhan kali dengan upah minim,” tambahnya.

FWLR juga mengkritik praktik sebagian operator tur yang hanya mengejar jumlah wisatawan tanpa memedulikan kesejahteraan pekerja. “Jika ingin menambah kuota, pastikan porter dibayar dengan layak. Jangan hanya mengejar keuntungan sepihak,” tegas Royal.

Sebelumnya, FWLR telah mengajukan usulan peninjauan kuota kepada Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) pada 2022. Meskipun belum ada keputusan final, TNGR telah meneruskan proposal tersebut ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk dikaji lebih lanjut.

Menariknya, kuota pendakian Rinjani sebenarnya belum pernah terpenuhi secara maksimal. Hal ini disebabkan mayoritas pendaki hanya memilih tiga jalur populer: Sembalun, Torean, dan Senaru. Padahal, jalur selatan yang memiliki kuota 300 orang per hari jarang dimanfaatkan. “Jika semua jalur dimaksimalkan, sebenarnya kapasitas Rinjani masih bisa menampung lebih banyak pendaki tanpa harus menambah kuota,” jelas Royal.

Ke depan, FWLR berharap Rinjani tidak hanya menjadi destinasi massal, tetapi juga contoh pariwisata berkelanjutan yang mengutamakan keseimbangan antara ekonomi, ekologi, dan kesejahteraan masyarakat. “Ini bukan sekadar soal angka, tapi tentang menciptakan sistem yang adil bagi semua pihak, termasuk alam dan pekerja lokal,” tutup Royal.

Dengan pendekatan yang bijak, penambahan kuota pendakian bisa menjadi langkah awal menuju transformasi pariwisata Rinjani yang lebih bernilai dan berkelanjutan.

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *