investigasiindonesia.com – Para pelaku pariwisata dan masyarakat sekitar Gunung Rinjani terus mendorong peningkatan kuota pendakian, menyuarakan aspirasi mereka melalui orasi di depan kantor Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR). Tuntutan ini disambut positif oleh pihak berwenang, yang menyatakan kesediaan untuk mengkaji ulang daya dukung kawasan demi keseimbangan antara pariwisata dan kelestarian alam.
Kepala Balai TNGR, Yarman, mengonfirmasi telah menerima audiensi dari Asosiasi Tour Operator Senaru (ATOS) yang meminta pertimbangan ulang soal kuota pendakian. Surat resmi bernomor 06/ATOS/III/2025 telah diserahkan, menekankan pentingnya kajian menyeluruh terkait daya tampung Rinjani sebelum keputusan final diambil.
“Kami memahami aspirasi masyarakat, namun setiap perubahan harus melalui analisis mendalam. Ini bukan sekadar menambah kuota, tetapi memastikan sarana prasarana memadai, keamanan pendaki terjamin, dan ekosistem tetap lestari,” tegas Yarman.
Balai TNGR berjanji akan segera menggelar dialog terbuka dengan para pemangku kepentingan, termasuk trekking organizer dan kelompok masyarakat, untuk merumuskan solusi terbaik. Langkah ini diharapkan bisa memacu pertumbuhan pariwisata Lombok tanpa mengorbankan keindahan alam Rinjani.
Sementara itu, Kepala Pengendali Ekosistem Hutan, Budi Soesmardi, menegaskan bahwa pembatasan kuota selama ini bukan untuk membatasi rezeki, melainkan menjaga keberlanjutan Rinjani sebagai warisan dunia. “Kami ingin wisatawan menikmati Rinjani dalam kondisi terbaik, dengan alam yang asri dan satwa yang terlindungi,” ujarnya.
Dengan komitmen kuat dari semua pihak, Lombok berpotensi mencatatkan lonjakan kunjungan wisatawan jika kajian ini berujung pada kebijakan yang menguntungkan. Rinjani siap menjadi destinasi unggulan yang mendunia, dengan keseimbangan antara ekonomi dan ekologi sebagai kunci utamanya!


















