investigasiindonesia.com – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) melalui Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) tengah mempersiapkan langkah-langkah strategis untuk menyambut penetapan Dompu sebagai kawasan tebu nasional berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 03 Tahun 2024. Kebijakan ini menjadi momentum besar bagi NTB untuk memperkuat sektor perkebunan dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Salah satu fokus utama adalah memperluas area tanam tebu guna memenuhi kapasitas produksi pabrik gula PT Sukses Mantap Sejahtera (SMS) di Pekat, Dompu. Selama ini, pabrik tersebut masih mengimpor gula rafinasi karena produksi tebu lokal belum mencukupi kebutuhan mesin produksi.
“Kami akan memfasilitasi petani dengan bantuan benih unggul dan pendanaan untuk meningkatkan produktivitas,” ujar Taufiek, perwakilan Distanbun NTB. Langkah ini diharapkan mendorong lebih banyak petani beralih ke komoditas tebu yang dinilai memiliki nilai ekonomi tinggi, setara dengan jagung yang selama ini menjadi andalan.
Pemerintah juga berupaya meyakinkan masyarakat bahwa tebu merupakan komoditas menjanjikan. Saat ini, petani tebu yang sudah bermitra dengan pabrik merasakan langsung manfaat ekonominya. “Ini menjadi tantangan kami agar lebih banyak petani tertarik menanam tebu,” tambah Taufiek.
Meski demikian, ada beberapa kendala yang masih dihadapi, seperti kelangkaan pupuk bersubsidi untuk tebu karena fokus pemerintah pusat masih pada komoditas pangan seperti padi dan jagung. Distanbun NTB tidak tinggal diam dan akan melakukan pemetaan potensi lokal untuk memastikan intervensi yang tepat sasaran.
“Jika tebu memang menjadi potensi unggulan, kami akan optimalkan dukungan,” tegas Taufiek. Masalah kelangkaan pupuk juga dipicu oleh ketidaksesuaian data lahan pertanian antara pusat dan daerah, menyebabkan kuota pupuk tidak mencukupi kebutuhan di lapangan.
Dengan komitmen kuat dari pemerintah daerah, NTB siap menjadi salah satu lumbung tebu nasional. Dukungan penuh bagi petani, mulai dari bibit hingga pembiayaan, diharapkan mampu mengubah wajah perekonomian daerah dan mengurangi ketergantungan pada impor gula. Langkah ini tidak hanya menguntungkan petani tetapi juga mendorong pertumbuhan industri lokal yang berkelanjutan.


















