investigasiindonesia.com – Di tengah reruntuhan dan luka yang mendalam, warga kota Sumy, Ukraina, menunjukkan kekuatan yang menginspirasi dunia. Serangan rudal balistik Rusia pada Minggu (13/4) pagi waktu setempat memang meninggalkan duka—34 orang tewas dan lebih dari 100 terluka—tetapi dari abu kepedihan, muncul cerita-cerita haru tentang solidaritas, keberanian, dan tekad untuk terus maju.
Dua rudal Iskander-M/KN-23 menghantam pusat kota, merobek bangunan-bangunan penting, termasuk universitas, apartemen, kafe, dan pengadilan distrik. Namun, dalam hitungan menit setelah ledakan, ratusan warga, relawan, dan tim medis bergegas ke lokasi, bekerja tanpa lelah menyelamatkan korban yang terperangkap.
Seorang dokter setempat, Anna Kovalenko, menggambarkan situasi di rumah sakit yang penuh sesak: “Kami kehabisan tempat tidur, tapi tidak kehabisan harapan. Orang-orang datang menyumbangkan darah, makanan, bahkan pakaian untuk para korban.”
Di antara korban luka, 15 anak-anak menjadi perhatian khusus. Delapan di antaranya masih berjuang di ruang intensif, namun kisah seorang bocah lelaki berusia 10 tahun yang menyelamatkan adiknya dari reruntuhan apartemen mereka viral di media sosial. “Saya hanya tahu saya harus membawanya keluar,” katanya dengan polos, membuat dunia terenyuh.
Presiden Volodymyr Zelensky, dalam pidato yang penuh emosi, mengajak dunia melihat langsung dampak serangan ini. “Ini bukan hanya tentang angka, tapi tentang manusia,” ujarnya. Serangan yang terjadi di hari Minggu Palma—hari suci bagi umat Kristen—mempertegas penderitaan warga sipil, tetapi juga menguatkan tekad Ukraina untuk bertahan.
Di tengah kecaman internasional, warga Sumy justru memilih aksi nyata. Relawan dari kota-kota tetangga berdatangan membawa bahan bangunan, obat-obatan, dan dukungan moral. Sebuah kafe yang hancur justru menjadi pusat distribusi makanan gratis bagi pengungsi.
“Kami tidak akan membiarkan rasa takut menghentikan kami,” kata seorang guru yang kehilangan sekolahnya. “Anak-anak harus tetap belajar, bahkan di tengah reruntuhan.”
Sementara pihak Rusia belum memberikan pernyataan resmi, dunia menyaksikan sesuatu yang lebih kuat dari senjata: ketangguhan manusia. Di Sumy, setiap puing kini menjadi simbol harapan—bahwa di balik kegelapan, cahaya selalu menemukan jalan.


















