investigasiindonesia.com – Lombok Barat sedang mencatat sejarah baru di era kepemimpinan Bupati Lalu Ahmad Zaini dan Wakil Bupati Hj. Nurul Adha. Kebijakan revolusioner mereka menetapkan bahwa tidak ada lagi jabatan diberikan karena faktor kedekatan, balas jasa, atau politik. Setiap posisi strategis—mulai dari pejabat eselon II hingga kepala sekolah SD dan SMP—harus melalui proses “jobfit”, sebuah sistem penilaian kompetensi yang ketat.
“Tidak ada lagi the wrong man in the wrong place. Saya hanya mau orang terbaik di posisi terbaik,” tegas Bupati Zaini di hadapan ratusan kepala sekolah. Ia bahkan memberi ultimatum: “Jika dalam dua bulan data PIP (Program Indonesia Pintar) tidak akurat, lebih baik mundur!”
Jobfit: Ujian Nyata untuk Pejabat
Proses jobfit bukan sekadar formalitas. Pejabat diuji dari kompetensi teknis, soft skills, hingga kemampuan mempresentasikan rencana kerja yang selaras dengan visi-misi pembangunan Lombok Barat. Mereka wajib membuat makalah dan memaparkan strategi konkret. “Tidak ada yang bisa sembunyi di balik kata-kata kosong,” tegas Zaini.
Hasil jobfit akan menentukan nasib para pejabat: rotasi, mutasi, atau bahkan turun jabatan. Sistem ini sudah dimulai untuk eselon II dan akan merambah ke seluruh lini birokrasi. “Siapa yang tidak layak, ya silakan keluar. Ini bukan tempat untuk bermain-main,” tambahnya.
Kepala Sekolah Juga Tak Boleh Asal Pilih
Tak hanya birokrat, kepala sekolah pun tak luput dari seleksi ketat. Bupati menegaskan, “Tidak boleh ada guru favorit jadi kepala sekolah hanya karena kenalan pejabat.” Penempatan harus berdasarkan kemampuan memajukan pendidikan, terutama dalam memastikan bantuan PIP tepat sasaran ke siswa miskin ekstrem.
Dampak Positif yang Sudah Terlihat
Meski keras, kebijakan ini menuai dukungan luas. Publik melihat ini sebagai terobosan berani memberantas mental “jabatan warisan”. Banyak yang yakin, Lombok Barat akan menjadi contoh pemerintahan berbasis meritokrasi murni pertama di Indonesia.
“Inilah cara memajukan daerah: tempatkan orang tepat di posisi tepat. Bukan karena siapa dia, tapi karena apa yang bisa dia lakukan,” pungkas Bupati Zaini.


















