investigasiindonesia.com – Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), Rudy Mas’ud, secara resmi menyatakan kesiapan provinsinya untuk mengambil alih penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028 jika Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT) dinilai belum siap. Pernyataan ini langsung memicu respons keras dari Ketua Umum KONI NTB, Mori Hanafi, yang menegaskan bahwa NTB sudah jauh lebih siap dalam segala aspek.
Dalam keterangannya, Rudy Mas’ud menyebut bahwa infrastruktur olahraga di Kaltim, khususnya GOR Kadrie Oening, sudah memenuhi standar event nasional. “Kalau NTT dan NTB tidak siap, Kalimantan Timur siap untuk melaksanakan PON,” tegasnya. Klaim ini langsung dibalas Mori Hanafi dengan menantang Gubernur Kaltim untuk meninjau langsung kesiapan NTB.
“Jika Kaltim mengklaim daerahnya sangat siap, mestinya Gubernur Kaltim datang dan kroscek kesiapan venue dan akomodasi di NTB. Supaya tidak sembarangan ingin ambil alih,” ujar Mori. Ia membeberkan fakta bahwa kesiapan venue di NTB sudah mencapai 80%, akomodasi 100%, fasilitas kesehatan 80%, dan transportasi 30%.
Mori juga membantah keras anggapan bahwa NTB tidak serius mempersiapkan PON 2028. “Kita sudah mempersiapkan venue pertandingan dan pendataan akomodasi. Bahkan, induk cabang olahraga di pusat sudah menyetujui lokasi yang kita siapkan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Mori mengungkapkan bahwa anggaran yang dibutuhkan tidak sebesar yang dikhawatirkan karena NTB sudah memiliki banyak fasilitas yang bisa digunakan. “Kecuali ada revitalisasi GOR 17 Desember dan pembangunan lapangan tembak, itu butuh tambahan dana,” jelasnya.
Dengan nada optimis, Mori menegaskan bahwa NTB tidak akan menyerahkan hak tuan rumah dengan mudah. “Kami siap, dan pernyataan bahwa kami tidak bekerja itu tidak benar!” tandasnya.
Pertarungan kesiapan antara Kaltim dan NTB ini semakin memanas, memantik perhatian publik. Siapa yang benar-benar paling layak menjadi tuan rumah PON 2028? Jawabannya mungkin akan segera terungkap dalam waktu dekat.


















