banner 728x250
Berita  

ISTANA BASHAR AL ASSAD DIGUNCANG, GELOMBANG PERANG SURIAH KEMBALI BERGEJOLAK

banner 120x600
banner 468x60

Damaskus kembali menjadi saksi babak baru konflik berdarah di Suriah. Pada Minggu (1/12), kelompok pemberontak dengan keberanian penuh melancarkan serangan langsung ke Istana Presiden Bashar Al Assad di Aleppo. Serangan ini tidak hanya mengguncang keamanan rezim Assad, tetapi juga memantik eskalasi militer yang melibatkan kekuatan besar seperti Rusia dan Iran.

Diplomasi Iran di Tengah Api Perang

banner 325x300

Kedatangan diplomat Iran ke Damaskus pada hari yang sama menambah panas situasi. Iran, yang secara terang-terangan mendukung rezim Assad, berusaha mempertegas posisinya di tengah guncangan ini. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyampaikan dukungan moral kepada Assad dengan menyebut semangat pemimpin Suriah itu sebagai “mengagumkan dalam keadaan sulit”. Kunjungan ini sekaligus menjadi sinyal tegas bahwa Iran tidak akan tinggal diam menghadapi ancaman terhadap sekutunya.

Hayat Tahrir Al Sham (HTS): Pemberontak yang Memantik Bara

Serangan ini didalangi oleh kelompok Hayat Tahrir Al Sham (HTS), salah satu kelompok militan paling dominan di Suriah. Dalam beberapa pekan terakhir, HTS telah memperluas wilayah kekuasaan mereka hingga menguasai Provinsi Idlib secara penuh. Ambisi mereka tidak hanya berhenti di situ; Aleppo dan Hama menjadi target berikutnya. Mereka tidak hanya ingin memperluas wilayah, tetapi juga menjatuhkan Assad dari tampuk kekuasaan.

Kehadiran HTS menjadi ancaman serius bagi stabilitas Suriah. Serangan mereka pada Minggu menjadi yang paling berani dalam beberapa tahun terakhir, menandai kebangkitan baru kelompok pemberontak di tengah perang saudara yang telah membekukan sebagian besar garis depan sejak 2020.

Serangan Balik Militer Suriah dan Rusia

Militer Suriah, dengan dukungan penuh dari jet tempur Rusia, merespons dengan serangan balik yang tidak kalah ganas. Laporan menyebutkan setidaknya tujuh orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka akibat serangan tersebut. Pemerintah Suriah mengklaim bahwa target mereka adalah markas persembunyian pemberontak, meski tuduhan serangan terhadap warga sipil tak dapat dihindarkan.

Kementerian Pertahanan Suriah segera memperkuat garis pertahanan di wilayah utara Hama dan mengirim tambahan persenjataan ke garis depan. Serangan balasan besar-besaran dilaporkan telah direncanakan untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai oleh pemberontak.

Dukungan Internasional dan Potensi Eskalasi

Selain Rusia, Iran juga memainkan peran penting dengan memberikan dukungan militer melalui Pasukan Pengawal Revolusi. Namun, situasi yang semakin panas ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan internasional. Utusan Khusus PBB untuk Suriah, Geir O. Pedersen, mengingatkan bahaya eskalasi konflik. Dia menyebut bahwa upaya “pengelolaan konflik” tanpa solusi nyata hanya akan memperburuk keadaan.

Ke Mana Assad?

Di tengah kekacauan ini, Presiden Bashar Al Assad memilih menghilang dari sorotan publik. Dia baru muncul pada Sabtu (30/11) lalu, meminta dukungan diplomatik dari Irak dan Uni Emirat Arab (UEA). Langkah ini mengindikasikan bahwa rezim Assad tengah menghadapi tekanan berat baik dari dalam maupun luar negeri.

Darah dan Diplomasi: Masa Depan Suriah yang Suram

Serangan terbaru ini menjadi pengingat betapa rapuhnya stabilitas di Suriah. Dengan medan pertempuran yang kembali memanas, solusi politik tampaknya semakin jauh dari jangkauan. Dukungan Rusia dan Iran, meskipun signifikan, tampaknya belum mampu memadamkan gelora pemberontakan yang semakin membara.

Sementara itu, masyarakat Suriah kembali menjadi korban utama dari ambisi dan kepentingan pihak-pihak yang bertikai. Dengan garis depan yang berubah dan korban jiwa yang terus bertambah, Suriah tampaknya masih harus menghadapi perjalanan panjang dalam mencari kedamaian yang hakiki.

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *