investigasiindonesia.com – Vatikan mengumumkan kabar duka yang menyentuh hati jutaan umat di seluruh dunia. Paus Fransiskus, pemimpin spiritual umat Katolik yang dikenal rendah hati dan penuh kasih, telah menghembuskan napas terakhirnya pada usia 87 tahun. Berdasarkan laporan resmi dari Vatican News, penyebab kematiannya adalah stroke, disusul koma dan kolaps kardiosirkulasi ireversibel.
Paus Fransiskus, yang terlahir dengan nama Jorge Mario Bergoglio di Buenos Aires, Argentina, pada 17 Desember 1936, telah lama berjuang melawan berbagai masalah kesehatan, termasuk pneumonia, bronkiektasis, hipertensi, dan diabetes. Meski begitu, semangatnya dalam memperjuangkan kemanusiaan, perdamaian, dan persaudaraan universal tak pernah pudar.
Pemerintah Italia menyatakan masa berkabung nasional selama lima hari, yang akan berlangsung hingga hari pemakamannya pada Sabtu (26/4). Prosesi penghormatan terakhir akan dimulai pada pukul 09.00 waktu setempat di Basilika Santo Petrus, di mana jenazahnya akan disemayamkan untuk memberikan kesempatan bagi umat beriman memberikan penghormatan. Misa pemakaman akan digelar pada pukul 10.00, dipimpin oleh Kardinal Giovanni Battista Re.
Dunia kini menantikan proses suksesi kepemimpinan Gereja Katolik. Dewan Kardinal akan segera berkumpul dalam konklaf untuk memilih penerus Paus Fransiskus. Lebih dari 250 kardinal dari berbagai negara akan berpartisipasi, meski hanya sekitar 135 yang memiliki hak suara. Tradisi pemilihan Paus baru ini diperkirakan berlangsung dalam 15-20 hari mendatang di Kapel Sistina.
Di Surabaya, Indonesia, duka mendalam dirasakan oleh umat Katolik dan masyarakat lintas agama. Sebanyak 700 orang menghadiri Misa Requiem di Gereja Katedral Hati Kudus Yesus, dipimpin langsung oleh Uskup Surabaya, Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo. “Ini adalah misa Paskah, tetapi kami menyisipkan doa khusus untuk Paus Fransiskus, yang telah memberikan begitu banyak inspirasi,” ujar Mgr. Didik, panggilan akrabnya.
Kehadiran tokoh lintas agama dan organisasi toleransi semakin memperlihatkan betapa besar pengaruh Paus Fransiskus dalam mempersatukan umat manusia. Sumriyah, Koordinator Gusdurian Surabaya, menyatakan, “Beliau adalah tokoh global yang memperjuangkan kemanusiaan dan keadilan sosial, termasuk untuk Indonesia.”
Sebuah lingkaran doa kecil juga digelar oleh 50 aktivis perdamaian, yang membacakan penghargaan atas dedikasi Paus Fransiskus dalam membangun dialog antaragama dan membantu kaum marginal. Warisannya sebagai paus yang dekat dengan rakyat, pembela lingkungan, dan pejuang kesetaraan akan terus dikenang sepanjang masa.
Selamat jalan, Paus Fransiskus. Dunia kehilangan seorang bapak, tetapi cahaya kasihmu tetap abadi.
(Sumber: Vatican News, The Guardian


















