investigasiindonesia.com – Sebuah gelombang keberanian dan solidaritas muncul dari kalangan santriwati di Lombok Barat setelah kasus dugaan pelecehan seksual oleh oknum pimpinan pondok pesantren (ponpes) terungkap. Tidak hanya menuntut keadilan, para korban kini mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah, tokoh masyarakat, hingga lembaga perlindungan anak.
Gubernur NTB, Lalu Muhammad Iqbal, langsung mengambil langkah cepat dengan memerintahkan UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) untuk turun ke lapangan. “Saya minta pendampingan korban dilakukan segera, dengan tetap menjaga kerahasiaan dan privasi mereka,” tegas mantan Duta Besar Indonesia itu.
Langkah ini disambut positif oleh berbagai pihak. Ketua LPA Kota Mataram, Joko Jumadi, mengaku telah menerima arahan langsung dari gubernur untuk membantu proses pendampingan. “Kami siap memberikan trauma healing dan bantuan hukum,” ujarnya.
Di sisi lain, anggota DPRD NTB, Didi Sumardi, mendorong evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengawasan ponpes. “Ini momentum untuk memperkuat perlindungan anak di semua sektor, terutama pendidikan berbasis agama,” kata politisi Golkar tersebut.
Yang menarik, masyarakat Lombok Barat mulai menggalang dana independen untuk membantu korban. Sebuah gerakan bernama “Satu Hati untuk Santriwati” telah mengumpulkan puluhan juta rupiah dalam hitungan hari. “Kami ingin tunjukkan bahwa masyarakat tidak tinggal diam,” ujar Koordinator Gerakan, Aisyah Rahman.
Pesantren tempat kejadian pun mulai melakukan reformasi internal. Beberapa alumni dan orang tua santri mengusulkan pembentukan tim pengawasan independen yang melibatkan tokoh agama setempat. “Kita harus pastikan lingkungan pendidikan tetap aman tanpa menutup pintu perbaikan,” kata seorang perwakilan ponpes.
Kasus ini juga memicu diskusi luas di media sosial, dengan tagar #SantriwatiBerani menjadi trending topic di platform Twitter. Banyak netizen membagikan kisah inspiratif tentang ketangguhan perempuan dalam melawan kekerasan.
Sementara itu, Kapolda NTB menjamin proses hukum akan berjalan transparan. “Kami prioritaskan penyelesaian yang berpihak pada korban,” tegasnya.
Dengan berbagai dukungan yang mengalir, para santriwati korban kini menunjukkan semangat baru. Salah satu korban yang enggan disebutkan namanya berujar, “Kami ingin keadilan, tapi juga ingin tetap bisa menggapai mimpi.”
Langkah-langkah cepat pemerintah dan solidaritas masyarakat ini menjadi bukti bahwa NTB mampu menghadapi ujian dengan cara-cara bermartabat. Seperti kata Gubernur Iqbal, “Kita harus pastikan masa depan mereka tetap cerah.”


















