investigasiindonesia.com – Antrean panjang truk pengangkut sapi dari Bima di Pelabuhan Gili Mas, Lombok Barat, akhirnya mulai berkurang. Setelah berhari-hari menunggu, ratusan truk yang sebelumnya memadati pelabuhan kini tersisa hanya puluhan saja. Para peternak dan pengusaha sapi menyambut baik perkembangan ini, sekaligus berharap adanya perbaikan sistem pengiriman hewan ternak dari Nusa Tenggara Barat (NTB) ke Pulau Jawa, terutama menjelang Idul Adha.
Menurut Ketua Gabungan Pengusaha Hewan Ternak Indonesia (Gapehani) Kabupaten Bima, Muziburrahman, saat ini hanya tersisa 24 truk tronton yang masih menunggu di pelabuhan. “Kalau ada yang datang lagi, jumlahnya tidak signifikan. Alhamdulillah antrean sudah jauh lebih lancar,” ujarnya, Senin (27/4).
Ia juga mengapresiasi langkah cepat Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, yang memberikan solusi dengan membuka jalur alternatif pengiriman sapi melalui Lembar-Padangbai (Bali) menuju Pelabuhan Gili Manuk. Kebijakan ini berlaku hingga 30 April mendatang. Namun, tantangan baru muncul karena masih ada sekitar 3.500 ekor sapi yang belum mendapatkan izin pengiriman dari dinas terkait.
“Kami mendesak Pemprov NTB segera mengeluarkan izinnya. Jika ditunda, waktu pengiriman melalui jalur alternatif akan habis, sementara sapi butuh waktu pemulihan setelah perjalanan panjang sebelum dijual,” jelas Muziburrahman.
Pemprov NTB sempat khawatir membuka izin pengiriman akan memicu penumpukan truk kembali di Pelabuhan Gili Mas. Namun, peternak meyakini bahwa kondisi saat ini sudah membaik dan antrean tidak akan kembali membludak. Justru, penundaan izin berisiko mempersempit waktu penjualan sapi di Jawa, terutama di Jakarta, di mana harga cenderung turun sebulan sebelum Idul Adha.
Solusi Jangka Panjang untuk Peternak Bima
Muziburrahman berharap ke depan Pemprov NTB dapat menyediakan solusi permanen, seperti membuka jalur kapal langsung dari Bima ke Banyuwangi. “Cukup dua kapal khusus yang beroperasi jelang Idul Adha. Satu kapal bisa mengangkut 40-60 truk tronton, sehingga mempercepat distribusi,” ujarnya.
Dukungan juga datang dari Ketua Asosiasi Peternak dan Pedagang Sapi Bima, Furkan, yang menegaskan bahwa industri ternak sapi adalah tulang punggung ekonomi bagi puluhan ribu warga Bima dan Dompu. Setiap tahun, sekitar 13.000 ekor sapi dikirim ke Jawa dengan nilai ratusan miliar rupiah. Uang ini menjadi sumber penghidupan, biaya pendidikan, dan penggerak perekonomian lokal.
“Jika masalah pengiriman tidak ditangani serius, dampaknya akan luas, bukan hanya bagi peternak tetapi juga perekonomian regional,” tegas Furkan.
Dengan antrean yang mulai terurai, harapan peternak kini tertuju pada perbaikan sistem logistik dan komitmen pemerintah untuk memastikan kelancaran distribusi sapi di masa mendatang. Langkah ini dinilai krusial agar persiapan Idul Adha berjalan lancar dan kesejahteraan peternak tetap terjaga.


















