Tragedi memilukan melanda satu keluarga di Desa Sai, Kecamatan Soromandi, Kabupaten Bima. Usai mengonsumsi ikan buntal, empat orang mengalami keracunan berat, menyebabkan satu korban meninggal dunia dan tiga lainnya kini dalam kondisi kritis. Kejadian ini menambah daftar panjang insiden keracunan makanan akibat konsumsi ikan buntal, yang dikenal memiliki racun mematikan.
Korban meninggal, Nuaeni alias Reni (40), adalah seorang ibu rumah tangga yang tidak menyadari bahaya besar yang mengintai dari makanan yang dimasaknya. Suaminya, Idris (42), anaknya, Nuraida (21), dan iparnya, Hadijah, kini tengah menjalani perawatan intensif di rumah sakit berbeda. Idris dalam kondisi tidak sadar di RSUD Bima, sementara Nuraida dirawat di RSUD Sondosia, dan Hadijah masih berada di RSUD Bima dengan pengawasan ketat.
Menurut informasi yang dihimpun, tragedi ini bermula ketika Reni memasak ikan buntal hasil tangkapan menantunya. Ironisnya, ikan tersebut sebenarnya sudah dibuang ke laut karena dianggap tidak layak konsumsi. Namun, Reni mengambil kembali ikan tersebut, membersihkannya, dan memasaknya untuk santapan keluarga.
“Sekitar beberapa jam setelah mengonsumsi ikan tersebut, mereka mulai merasakan gejala keracunan. Reni meninggal di tempat, sementara yang lain segera dilarikan ke puskesmas,” ungkap seorang pejabat setempat.
Gejala yang dialami para korban meliputi mual, muntah, pusing, hingga hilang kesadaran. Penanganan medis dilakukan secepat mungkin, namun racun ikan buntal, yang dikenal sebagai tetrodotoxin, memiliki efek mematikan dalam waktu singkat jika tidak segera diatasi.
Tragedi ini memicu keprihatinan masyarakat setempat. Camat Soromandi, yang menjenguk para korban di rumah sakit, mengingatkan warga agar lebih berhati-hati dalam mengonsumsi ikan laut, terutama jenis yang diketahui beracun. “Kami terus memberikan edukasi kepada masyarakat tentang bahaya konsumsi ikan buntal, tetapi insiden ini menjadi pengingat pahit bahwa upaya tersebut harus ditingkatkan,” katanya.
Di sisi lain, kasus ini juga membuka diskusi mengenai pengelolaan informasi bahaya pangan di daerah pesisir. Minimnya edukasi kesehatan dan kurangnya pemahaman masyarakat terhadap risiko konsumsi ikan buntal menjadi salah satu penyebab utama terjadinya kasus serupa.
Pemerintah Kabupaten Bima merespons insiden ini dengan mengerahkan tim kesehatan untuk memantau perkembangan para korban dan memberikan edukasi darurat kepada masyarakat setempat. “Kami akan memastikan semua korban mendapatkan perawatan terbaik, sekaligus menyusun strategi untuk mencegah insiden serupa di masa depan,” ujar perwakilan Dinas Kesehatan setempat.
Tragedi ini menjadi peringatan keras tentang pentingnya kesadaran masyarakat akan bahaya ikan buntal. Di balik kekayaan hasil laut yang melimpah, tersembunyi ancaman yang dapat merenggut nyawa jika tidak diantisipasi dengan baik. Warga Desa Sai kini berduka, kehilangan salah satu anggotanya dalam tragedi yang semestinya bisa dicegah.


















