Desa Pandai, Kecamatan Woha, Kabupaten Bima, bersiap memasuki babak baru dalam industri garam. Pabrik pengolahan garam senilai Rp 10 miliar yang dibangun di wilayah ini telah selesai 100 persen. Dengan kapasitas produksi yang dirancang untuk menjadi salah satu yang terbesar di Nusa Tenggara Barat (NTB), fasilitas ini diharapkan mampu mendongkrak sektor ekonomi lokal sekaligus memenuhi kebutuhan garam nasional.
Pabrik ini tidak hanya menjadi simbol modernisasi, tetapi juga representasi optimisme bagi petani garam di sekitar wilayah Bima. Selama bertahun-tahun, produksi garam rakyat di NTB kerap terkendala oleh rendahnya kualitas dan kurangnya akses pasar. Kini, dengan teknologi canggih yang dimiliki oleh pabrik ini, hasil panen petani garam akan diolah menjadi produk berkualitas tinggi, siap bersaing di pasar domestik maupun ekspor.
Dalam waktu dekat, pabrik ini akan menjalani tahap uji coba operasional untuk memastikan semua sistem berjalan optimal. Setelah uji coba selesai, pengelolaan pabrik akan dialihkan kepada koperasi lokal yang telah dipilih dan didampingi oleh Pemerintah Kabupaten Bima serta Pemerintah Provinsi NTB. Persiapan koperasi menjadi titik kritis agar proses transisi dapat berjalan mulus. Persyaratan seperti modal, pengalaman, dan rencana bisnis menjadi fokus utama dalam seleksi koperasi pengelola.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTB, Muslim, mengungkapkan bahwa koordinasi intensif tengah dilakukan dengan berbagai pihak, termasuk Pemerintah Pusat, untuk memastikan kelancaran operasional pabrik. “Kami ingin memastikan bahwa koperasi yang mengelola pabrik ini benar-benar siap. Ini bukan hanya soal bisnis, tetapi juga keberlanjutan kesejahteraan masyarakat lokal,” ujarnya.
Selain mempersiapkan koperasi, Pemerintah Kabupaten Bima juga mulai merancang strategi pemasaran untuk produk garam hasil olahan pabrik ini. Dengan standardisasi kualitas, pabrik ini diproyeksikan menghasilkan berbagai jenis produk garam, mulai dari garam konsumsi hingga garam industri, yang memiliki nilai tambah lebih tinggi dibandingkan garam mentah.
Namun, tidak semuanya berjalan mulus. Beberapa tantangan, seperti distribusi bahan baku garam dari petani ke pabrik dan pengembangan pasar baru, menjadi perhatian serius. Muslim optimis bahwa dengan kolaborasi yang solid antara pemerintah, koperasi, dan masyarakat, tantangan ini dapat diatasi. “Ini adalah awal dari transformasi besar-besaran sektor garam di NTB,” katanya dengan penuh semangat.
Keberadaan pabrik pengolahan garam ini diharapkan dapat memberikan dampak ekonomi yang signifikan, tidak hanya bagi petani garam di Kabupaten Bima tetapi juga masyarakat NTB secara keseluruhan. Dengan kapasitas besar dan dukungan teknologi, pabrik ini juga diharapkan mampu mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor garam, yang selama ini menjadi isu nasional.
Tidak hanya fokus pada ekonomi, pabrik ini juga berkomitmen pada keberlanjutan lingkungan. Sistem pengolahan limbah yang ramah lingkungan telah diterapkan untuk memastikan bahwa proses produksi tidak merusak ekosistem sekitar. Langkah ini sejalan dengan visi NTB sebagai provinsi yang berkelanjutan dalam pengelolaan sumber daya alamnya.
Dengan target peresmian dalam beberapa bulan mendatang, Desa Pandai akan menjadi sorotan nasional. Pabrik pengolahan garam ini tidak hanya menjadi proyek infrastruktur, tetapi juga simbol harapan bagi petani garam dan masyarakat NTB. Proyek senilai Rp 10 miliar ini menjadi bukti nyata bahwa investasi yang tepat dapat membawa perubahan besar bagi masyarakat lokal.
Sebagai pusat pengolahan garam terbesar di NTB, pabrik ini diharapkan menjadi model bagi wilayah lain yang ingin mengembangkan sektor serupa. Masa depan garam NTB tampaknya berada di jalur yang cerah, dan semuanya berawal dari Desa Pandai.


















