investigasiindonesia.com – Kawasan Pasar Kebon Roek berubah menjadi medan pertarungan antara pedagang liar dan pengelola pasar. Lebih dari 150 pedagang nekat membanjiri area parkir, membuat lokasi itu semakin sempit dan kacau. Padahal, pengelola sudah menyediakan tempat khusus yang lebih higienis, namun para pedagang menolak pindah dengan alasan sepi pembeli.
Kepala Pasar Kebon Roek, Malwi, mengungkapkan kekesalannya. Menurutnya, petugas parkir (jukir) justru menjadi biang kerok karena memberi izin pedagang berjualan di area terlarang. “Mereka bilang butuh setoran. Saya minta tegas, jangan beri kesempatan pedagang berjualan di sini!” tegas Malwi.
Yang lebih mencengangkan, pengelola pasar sama sekali tidak menerima retribusi parkir. Semua pendapatan dari parkir dikelola Dinas Perhubungan, sementara konsekuensi seperti kemacetan, kesemrawutan, dan kebersihan jatuh ke tangan pengelola pasar. “Kami hanya jadi korban. Dinas yang dapat uang, kami yang dapat masalah,” keluhnya.
Meski sudah dilakukan razia berkali-kali, pedagang hanya patuh sesaat sebelum kembali memadati parkir. Malwi mengaku sudah melapor ke Kepala Dinas Perhubungan Kota Mataram, Zulkarwin, untuk menertibkan jukir nakal. “Kalau masih bandel, pecat saja! Baru beres!” tegasnya.
Zulkarwin sendiri mengaku telah berkoordinasi dengan pengelola pasar dan berjanji akan mengumpulkan seluruh jukir untuk diberi peringatan keras. Namun, apakah langkah ini cukup untuk mengatasi kekacauan yang sudah berlarut-larut? Warga dan pembeli pasar hanya bisa berharap solusi nyata segera datang sebelum Pasar Kebon Roek benar-benar menjadi zona perang dagang!


















