investigasiindonesia.com – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akhirnya menerima hadiah kontroversial dari Pemerintah Qatar: sebuah pesawat Boeing 747-8 supermewah senilai USD 400 juta (Rp 6,6 triliun). Pesawat yang dijuluki “Istana Terbang” itu langsung ditetapkan sebagai pesawat kepresidenan AS, menggantikan Air Force One sementara hingga armada baru dari Boeing tiba.
Dalam unggahannya di Truth Social, Trump membantah tuduhan konflik kepentingan. “Boeing 747-8 ini diberikan kepada Angkatan Udara AS, bukan kepada saya secara pribadi! Ini hadiah dari Qatar, sekutu yang telah kami bela bertahun-tahun,” tegasnya. Dia juga menyindir Boeing yang dinilai terlalu lambat memproduksi pesawat kepresidenan baru.
Namun, keputusan Trump menuai kritik tajam dari anggota Kongres, terutama Partai Demokrat. Joe Courtney, anggota DPR dari Connecticut, memperingatkan bahwa langkah ini bisa mengganggu proses pengadaan Air Force One yang sebenarnya. Beberapa pihak juga mempertanyakan etika presiden menerima hadiah mewah dari negara asing.
Tak mau terpojok, Trump sudah menyiapkan alasan kuat. Dia mengklaim bahwa pesawat ini nantinya akan disumbangkan ke perpustakaan kepresidenan setelah masa jabatannya berakhir. “Hanya orang bodoh yang menolak hadiah seperti ini,” tambahnya.
Boeing 747-8 ini bukan pesawat biasa. Dibuat khusus untuk keluarga kerajaan Qatar pada 2012, pesawat ini memiliki jangkauan 1.852 km lebih jauh daripada Air Force One versi lama. Interiornya dilapisi emas dan dilengkapi teknologi komunikasi mutakhir. Trump bahkan sudah menggunakannya beberapa kali, termasuk saat kunjungan ke West Palm Beach.
Kini, “Istana Terbang” Qatar resmi menjadi bagian dari armada kepresidenan AS. Langkah Trump ini memicu perdebatan sengit: apakah ini bentuk diplomasi cerdas atau blunder politik? Satu hal yang pasti, dunia kembali dibuat terpana oleh gaya kepemimpinan Trump yang tak pernah biasa-biasa saja.


















