investigasiindonesia.com – salah satu destinasi wisata terindah di Indonesia, kini menghadapi tantangan besar. Lonjakan harga tiket pesawat yang mencapai angka fantastis, Rp1,2 juta untuk rute Lombok-Jakarta, membuat wisatawan berpikir dua kali sebelum berkunjung. Dampaknya? Tingkat hunian hotel di Lombok merosot tajam, memukul pelaku usaha pariwisata yang sedang berjuang bangkit pasca-pandemi.
Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi NTB, Ni Ketut Wolini, angkat bicara. Menurutnya, harga tiket yang tidak masuk akal ini menjadi penyebab utama turunnya minat wisatawan. “Dari Lombok ke Jakarta, 1 jam lebih terbang, harganya Rp1,2 juta. Sementara ke Bali hanya 30 menit, harganya sama. Ini sangat tidak wajar!” tegas Wolini.
Situasi ini memaksa pengusaha hotel dan restoran bekerja ekstra keras. Selain harus menghadapi efisiensi anggaran pemerintah, mereka juga harus berjuang menarik wisatawan di tengah harga tiket yang melambung tinggi. “Kalau tiket mahal, orang pasti mikir ulang. Butuh biaya besar hanya untuk sampai ke Lombok,” ujarnya.
Wolini juga menyoroti perbandingan harga yang tidak menguntungkan Lombok. “Jakarta-Lombok atau Bali-Lombok, justru lebih mahal ke Lombok. Ini bikin calon wisatawan hitung-hitungan,” paparnya. Padahal, Lombok memiliki segudang destinasi memukau, mulai dari pantai eksotis hingga gunung menjulang. Namun, semua itu seolah tak berarti jika aksesibilitasnya dibatasi harga tiket yang tidak terjangkau.
Ia mendesak pemerintah untuk segera turun tangan. “Pemerintah harus duduk bersama dengan maskapai dan pelaku pariwisata. Cari solusi, jangan biarkan Lombok sepi seperti ini,” tandas Wolini.
Tanpa intervensi cepat, Lombok bisa kehilangan daya tariknya. Padahal, potensi pariwisata pulau ini sangat besar. Jika harga tiket tidak segera dikendalikan, bukan hanya hotel yang merugi, tapi seluruh ekonomi daerah bisa terancam. Lombok butuh solusi sekarang!


















