Event budaya tahunan Pujawali dan Perang Topat kembali hadir dengan semarak, dijadwalkan berlangsung pada 10-18 Desember 2024 di Taman Lingsar, Lombok Barat. Tradisi unik yang menggabungkan nilai-nilai keberagaman ini diperkirakan akan menarik perhatian hingga 10.000 pengunjung, menjadikannya salah satu magnet pariwisata terbesar di NTB tahun ini.
Kepala Dinas Pariwisata Lombok Barat, Agus Gunawan, mengungkapkan bahwa penyelenggaraan tahun ini telah melalui evaluasi menyeluruh untuk memberikan pengalaman yang lebih baik bagi wisatawan. “Kami berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Museum Negeri NTB, untuk menghadirkan pameran Pusaka Desa sebagai bagian dari rangkaian utama Perang Topat. Ini adalah upaya kami untuk terus melestarikan budaya lokal sambil meningkatkan daya tarik wisata,” ujar Agus.
Tradisi Unik yang Menyatukan
Perang Topat bukan hanya tradisi budaya, tetapi juga simbol kerukunan antarumat beragama di Lombok. Ritual ini melibatkan umat Hindu dan Muslim Sasak yang bersama-sama melaksanakan prosesi seperti Mendak Betare, Ngeliningan Kaoq, dan puncaknya, “Perang Topat”. Dalam tradisi ini, kedua komunitas saling melempar ketupat sebagai simbol kesuburan dan perdamaian.
“Saat puncak acara, yakni pada 15 Desember, Pujawali akan digelar oleh umat Hindu diikuti dengan Rarak Kembang Waru sebagai tanda dimulainya Perang Topat. Ini adalah momen di mana kebersamaan dan keberagaman terlihat nyata,” ungkap Agus.
Kegiatan Meriah Selama Satu Pekan
Rangkaian kegiatan dimulai pada 10 Desember dengan atraksi tarung presean yang berlangsung selama empat hari. Selain itu, pengunjung akan dihibur dengan pertunjukan musik, tari tradisional, dan tari kreasi mulai 13 Desember. Tidak ketinggalan, pameran foto budaya oleh Komunitas Lombok Phonegraphy dan produk kerajinan UMKM akan menjadi daya tarik tambahan.
Sehari sebelum acara puncak, pada 14 Desember, masyarakat akan menggelar Roah Gubug yang dirangkaikan dengan sosialisasi Gempar Rokok Ilegal oleh Kantor Bea Cukai Mataram. Ritual Ngeliningan Kaoq, di mana kerbau diarak keliling pura, menjadi bagian dari rangkaian upacara yang penuh makna.
Pameran Pusaka Desa: Highlight Tahun Ini
Pameran Pusaka Desa tahun ini akan menghadirkan benda-benda pusaka dari 10 desa di Kecamatan Lingsar dan Narmada. Kolaborasi dengan Museum NTB memberikan dimensi baru bagi tradisi ini, menjadikannya bukan hanya perayaan budaya tetapi juga pembelajaran sejarah.
“Kami sangat antusias menyambut kegiatan ini. Masyarakat desa Lingsar telah bersiap dengan baik, dan kami pastikan acara berjalan lancar sesuai jadwal,” kata Kepala Desa Lingsar, Sahyan.
Dukungan Penuh untuk Pariwisata
Event ini merupakan bagian dari program Kharisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata RI. Dengan peningkatan kualitas lokasi, panggung, dan fasilitas lainnya, Lombok Barat berharap bisa mengukir prestasi baru dalam sektor pariwisata.
“Tujuan kami adalah tidak hanya melestarikan budaya tetapi juga meningkatkan jumlah wisatawan yang hadir,” ujar Agus. Tahun lalu, event ini berhasil menarik 8.000 pengunjung, dan tahun ini, angka tersebut diprediksi naik signifikan.
Penutup yang Spektakuler
Rangkaian acara akan ditutup pada 18 Desember dengan prosesi Melayagin, Beteteh, Ngelukar, dan Bukak Botol Momot, yang dijadwalkan berlangsung mulai pukul 11.00 hingga 18.00. Dengan antusiasme yang sudah terlihat, Perang Topat 2024 diharapkan menjadi salah satu event budaya terbaik yang pernah digelar di Lombok.
Bagi Anda yang ingin menyaksikan keunikan tradisi ini, Taman Lingsar menjadi destinasi wajib pekan ini. Jangan lewatkan kesempatan untuk merasakan harmoni keberagaman dalam kemasan budaya yang spektakuler.


















