investigasiindonesia.com – Puluhan warga Pondok Perasi, Kelurahan Bintaro, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram, kini menghadapi ujian baru setelah dilaporkan ke pihak kepolisian terkait sengketa lahan yang telah berlangsung puluhan tahun. Laporan polisi bernomor B/683/V/RES.124/2025/Reskrim itu ditujukan kepada warga yang masih bertahan di lahan yang diklaim sebagai milik pribadi Ratna Sari Dewi.
Bagi masyarakat Pondok Perasi, ancaman bukan hal baru. Selama tujuh tahun terakhir, mereka hidup di tenda darurat, menghadapi intimidasi dari preman hingga tekanan penggusuran. Kini, ketika ancaman fisik berubah menjadi ancaman hukum, tekad mereka justru semakin membara.
Nurjanah, salah satu warga yang menerima surat laporan, dengan lantang menyatakan tidak gentar. “Mau dipanggil seperti apa, bahkan dipenjara sekalipun, kami tidak akan mundur. Ini tanah yang sudah kami diami puluhan tahun,” tegasnya saat berbincang dengan Radar Lombok, Rabu (21/5).
Ia mengungkapkan, hampir seluruh warga Pondok Perasi menerima surat serupa. Namun, hal itu tidak menyurutkan niat mereka untuk bertahan. “Kalau perlu, kami rela mempertaruhkan nyawa demi tanah ini,” tambahnya dengan nada penuh keyakinan.
Di sisi lain, Ismul Hidayat, Anggota Komisi III DPRD Kota Mataram, mengakui bahwa persoalan ini telah lama menjadi perhatian. “Kami sudah turun ke lokasi berkali-kali. Kondisi huntara (hunian sementara) mereka sangat memprihatinkan, apalagi lokasinya rawan bencana seperti abrasi dan banjir,” ujarnya.
Ismul mendesak pemerintah segera mengambil langkah nyata, terutama untuk melindungi kelompok rentan seperti lansia, janda, dan anak-anak yang masih tinggal di kawasan tersebut.
Sementara itu, Asisten I Setda Kota Mataram, H. Lalu Martawang, menegaskan bahwa sengketa ini murni persoalan antara warga dan pemilik lahan. “Pemkot sudah berupaya maksimal, termasuk memindahkan sebagian warga ke Rusunawa sejak 2019,” jelasnya.
Namun, bagi warga Pondok Perasi, perjuangan belum usai. Mereka bersikukuh mempertahankan tanah yang diyakini sebagai hak turun-temurun. “Kami tidak takut. Selama nafas masih ada, kami akan terus melawan!” seru Nurjanah, mencerminkan semangat perlawanan yang tak pernah padam.


















