investigasiindonesia.com – Gelombang aksi besar-besaran siap menggulir di Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram setelah Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) menyerukan seluruh civitas akademika turun ke jalan menuntut rektorat memecat oknum dosen berinisial W yang diduga mencabuli tujuh mahasiswi. Aksi demonstrasi direncanakan berlangsung Kamis, 22 Mei 2025, di halaman rektorat kampus, mulai pukul 09.00 WITA.
Presiden Mahasiswa UIN Mataram, Abed Aljabiri Adnan, menegaskan aksi ini sebagai bentuk penolakan absolut terhadap kekerasan seksual di lingkungan kampus. “Kami tidak akan memberi ruang sedikit pun bagi predator seksual. UIN Mataram harus menjadi zona aman bagi seluruh mahasiswa,” tegas Abed dalam konferensi pers, Selasa (20/5).
Kasus ini mencuat setelah sejumlah korban mengungkap modus pelaku yang mengatasnamakan diri sebagai “figur ayah” untuk memanipulasi dan melecehkan mahasiswi. DEMA mendesak rektorat segera mengusut tuntas kasus, memberi sanksi tegas, serta mengeluarkan dosen terkait dari kampus jika terbukti bersalah. “Tidak ada kompromi untuk kejahatan seksual. Rektor Prof. Masnun harus bertindak sekarang,” tegas Abed.
Selain tuntutan hukum, DEMA mendesak kampus mengaktifkan Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS) secara maksimal. “Ini momentum untuk membangun sistem perlindungan yang nyata, bukan sekadar janji di atas kertas,” tambahnya.
Ajakan aksi telah menyebar luas di media sosial, disambut ribuan mahasiswa yang berkomitmen hadir. “Ini bukan hanya tentang tujuh korban, tapi tentang masa depan kampus yang bebas dari teror seksual,” seru salah satu pengunggah poster aksi di Instagram.
Rektorat UIN Mataram belum memberikan pernyataan resmi, namun sumber internal menyebut pihak kampus telah membentuk tim investigasi independen. Respons ini dinilai lamban oleh mahasiswa. “Korban sudah berani bicara, kini saatnya kampus membuktikan keberpihakannya,” tegas Abed.
Aksi Kamis besok diprediksi menjadi yang terbesar sepanjang sejarah UIN Mataram, dengan mahasiswa dari berbagai fakultas bersiap membanjiri rektorat. “Kami akan terus berdiri bersama korban hingga keadilan ditegakkan,” pungkas Abed.


















