investigasiindonesia.com – Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Dito Ariotedjo dan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhamad Iqbal bersepakat menjadikan Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028 sebagai momentum bersejarah dengan prinsip utama: keberlanjutan. Kedua pemimpin ini menegaskan, seluruh venue olahraga yang dibangun tidak boleh berakhir menjadi “bangunan hantu” usai pesta olahraga terbesar di Tanah Air itu berakhir.
Dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (23/5), Menpora Dito mengungkapkan, PON 2028 akan dirancang dengan konsep ramah masa depan. “Kita tidak hanya mengejar kesuksesan acara, tapi memastikan setiap lapangan, stadion, dan fasilitas olahraga tetap hidup untuk masyarakat pasca-PON,” tegasnya.
Pernyataan ini disampaikan usai pembukaan Kejuaraan Paragliding Accuracy World Cup (PGAWC) di Bukit Sky Lancing, Lombok Tengah, Kamis (22/5). Menurut Dito, pemerintah pusat akan melakukan evaluasi menyeluruh setelah PON Aceh-Sumut 2024 sebagai acuan. “Target kami bukan sekadar seremonial, melainkan legacy nyata bagi dunia olahraga dan ekonomi daerah,” tambahnya.
Dukungan kuat juga datang dari Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, yang menyatakan kesiapan penuh provinsi nya bersama Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai tuan rumah. “Kami sudah menyiapkan strategi agar infrastruktur olahraga tidak mati suri. Ini komitmen kami untuk atlet dan masyarakat,” ujar Iqbal.
PON 2028 akan menjadi tonggak baru sebagai ajang multievent nasional pertama yang digelar kolaborasi dua provinsi di Indonesia Timur. Konsep keberlanjutan ini disebut-sebut bakal menghemat anggaran negara sekaligus membuka peluang ekonomi melalui pemanfaatan venue secara berkelanjutan.
Dengan pendekatan ini, Dito dan Iqbal yakin PON 2028 tidak hanya memukau lewat gegap gempitanya, tapi juga meninggalkan jejak positif bagi generasi mendatang. “Ini bukan soal pesta 10 hari, tapi investasi 10 tahun ke depan,” pungkas Menpora.


















