investigasiindonesia.com – Lombok Timur kini menapaki babak baru di bawah kepemimpinan Bupati Haerul Warisin dan Wakil Bupati Edwin Hadijaya (Iron-Edwin). Tepat memasuki 100 hari pertama, duo pemimpin ini memamerkan sederet gebrakan yang langsung menyasar jantung permasalahan rakyat. Angka-angka fantastis bertebaran: Rp40 miliar untuk paket sembako, Rp20 miliar modal UMKM, hingga Rp99 miliar untuk membebaskan iuran BPJS Kesehatan warga miskin. Sebuah langkah yang disebut banyak pihak sebagai “serangan fajar” pembangunan berkeadilan.
Bansos Massal & Dapur Ekonomi Rakyat Menyala
Di tengah gejolak ekonomi global, Lombok Timur justru memilih beraksi nyata. Bantuan sosial senilai Rp40 miliar telah disalurkan ke ribuan keluarga kurang mampu, disusul injeksi modal Rp20 miliar untuk pelaku UMKM. “Kami tak mau rakyat hanya jadi penonton pembangunan. UMKM adalah nadi ekonomi, mereka harus diberdayakan sejak hari pertama,” tegas Edwin dalam pidato spontannya di Pasar Tradisional Selong. Efeknya langsung terasa: puluhan warung kuliner dan sentra kerajinan lokal mulai bangkit setelah sebelumnya terpuruk akibat pandemi.
Tak cuma itu, pemerintah daerah juga memastikan 45.000 warga miskin terbebas dari beban BPJS Kesehatan berkat anggaran Rp99 miliar. “Kesehatan adalah hak dasar. Tak boleh ada lagi warga yang takut berobat karena tak punya biaya,” seru Haerul saat meninjau Puskesmas di Kecamatan Sambelia. Kebijakan ini langsung mendapat sorotan nasional, bahkan disebut sebagai model percepatan perlindungan kesehatan oleh sejumlah pengamat.
Reformasi Birokrasi & Terobosan Ekonomi Biru
Di balik layar, pemerintahan Iron-Edwin menggebrak dengan mutasi besar-besaran pejabat eselon III dan alih kelola pasar ke swasta untuk efisiensi. Tapi yang paling mengejutkan adalah fokus mereka pada “ekonomi biru”. Tambak udang dan potensi kelautan diangkat sebagai primadona baru Pendapatan Asli Daerah (PAD). “Lombok Timur punya garis pantai terpanjang di NTB. Ini adalah harta karun yang belum tergarap maksimal,” ujar Edwin saat peluncuran program sekolah nelayan di Tanjung Luar.
Tanggapan Publik: Antara Apresiasi & Tantangan Ke Depan
Muhammad Saleh, pengamat kebijakan publik, mengakui kecepatan Iron-Edwin dalam membangun kepercayaan masyarakat. Namun, ia mengingatkan: “Bansos ibarat obat sakit kepala—penting tapi tak menyelesaikan akar masalah. Lombok Timur butuh industrialisasi pertanian dan pariwisata berkelanjutan.” Kritik lain datang dari kalangan ASN yang menuntut meritokrasi murni dalam pengisian jabatan.
Haerul sendiri tak ingin terjebak euforia. “100 hari hanyalah pemanasan. Tolok ukur sesungguhnya adalah bagaimana kami mengubah Lombok Timur dalam 5 tahun ke depan,” katanya rendah hati. Ia menjanjikan terobosan di sektor pendidikan dan infrastruktur dalam waktu dekat, termasuk pembangunan jalan poros desa dan digitalisasi sekolah.
Sementara itu, di media sosial, tagar #IronEdwin100Hari menjadi trending topic dengan ribuan komentar warganet. Sebagian besar membanjiri kolom komentar dengan cerita sukses menerima bantuan, sementara lainnya menantikan realisasi proyek jangka panjang. Satu hal yang pasti: Lombok Timur sedang diperbincangkan, bukan karena kontroversi, tapi karena aksi-aksi konkret yang menyentuh langsung kehidupan warganya


















