investigasiindonesia.com – Sebuah kisah heroik terukir di Istora Senayan. Mohammad Reza Pahlevi Isfahani, pebulu tangkis ganda putra Indonesia, menorehkan catatan luar biasa di Indonesia Open 2025. Bagaimana tidak? Sebelum turnamen dimulai, kondisi fisiknya nyaris tak memungkinkan untuk bertanding. Jangankan berlari, duduk pun ia kesulitan.
“Selesai latihan tes court di Istora, pulang ke rumah saya bahkan tidak bisa duduk. Saya berjalan membungkuk seperti orang tua,” ungkap Reza, suaranya bergetar saat mengenang malam itu.
Rasa sakit yang menusuk tulang belakangnya hampir membuatnya menyerah. Namun, dukungan dari pasangannya, Sabar Karyaman Gutama, serta pelatih legendaris Hendra Setiawan, memberinya kekuatan untuk terus berjuang. Malam itu, dengan ditemani sang istri, Marsheilla Gischa Islami, Reza memilih “terapi ekstrem”: tidur di lantai demi mengurangi nyeri yang tak tertahankan.
Tak hanya itu, demi bisa tampil di lapangan, Reza harus mengandalkan painkiller dan pijat kretek tradisional sebelum setiap pertandingan. “Badan saya ditarik-tarik, rasanya tulang mau copot. Tapi setelah itu, saya bisa bergerak lagi,” tuturnya.
Perjuangan ini bukan tanpa alasan. Sebagai atlet profesional non-pelatnas, Reza dan Sabar harus mengatur segalanya sendiri—dari pendanaan, jadwal latihan, hingga akomodasi. Sponsor menjadi penopang hidup mereka, karena tidak setiap turnamen menjanjikan kemenangan dan hadiah uang besar.
Maka, ketika akhirnya mereka melangkah ke final Indonesia Open 2025, semua pengorbanan terbayar sudah. Air mata Reza tumpah di lapangan. “Ini bukti bahwa kerja keras tidak pernah mengkhianati hasil,” ucapnya, wajahnya bersinar meski tubuhnya masih menahan sisa sakit.
Tekanan yang Sama, Semangat yang Tak Pudar
Jonatan Christie dan Chico Aura Dwi Wardoyo juga merasakan kerasnya jalan sebagai atlet non-pelatnas. Jojo, yang baru bergabung dengan PB Tangkas, mengaku tekanan tetap sama besar. “Kami tetap membawa nama Indonesia, di pelatnas atau tidak,” tegasnya.
Meski belum meraih hasil maksimal di dua turnamen terakhir, Jojo tak menyerah. Begitu pula Chico, yang meski tersingkir lebih awal di Indonesia Open, tetap optimis. “Saya ingin menikmati setiap pertandingan dan terus mematangkan diri,” ujar pebulu tangkis asal Papua itu.
Kisah Reza, Sabar, Jojo, dan Chico adalah bukti nyata: di balik glamornya dunia bulu tangkis, ada perjuangan tak kasat mata. Mereka mungkin tak lagi memakai seragam pelatnas, tetapi jiwa pejuang mereka tetap menyala—untuk Indonesia.


















