investigasiindonesia.com – Dalam langkah monumental untuk memerangi angka putus sekolah di kawasan Asia Tenggara, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Prof. Abdul Mu’ti memimpin gelombang perubahan di ajang ASEAN Ministers of Education Roundtable di Malaysia. Acara bergengsi ini menjadi panggung strategis bagi Indonesia untuk menegaskan komitmennya dalam memastikan tidak ada satu pun anak yang tertinggal dalam mengenyam pendidikan berkualitas.
Dengan semangat kolaborasi yang membara, Mu’ti menyerukan aksi nyata mengatasi Anak Tidak Sekolah (ATS), sebuah isu yang masih menghantui lebih dari 250 juta anak dan remaja di seluruh dunia, berdasarkan laporan UNESCO 2024. “Ini bukan sekadar tantangan, tapi peluang emas bagi ASEAN untuk menciptakan solusi berbasis data dan inovasi,” tegasnya dengan penuh keyakinan.
Tak hanya berwacana, Indonesia telah melesat dengan terobosan Program Indonesia Pintar (PIP), yang pada 2024 berhasil menyentuh hidup 18,8 juta siswa dari keluarga kurang mampu. Sistem pendataan terintegrasi dengan faktor sosial-ekonomi memastikan bantuan tepat sasaran, sekaligus mematahkan rantai putus sekolah.
Lebih dahsyat lagi, Kemendikdasmen meluncurkan aplikasi “Rumah Pendidikan”, sebuah platform super yang bisa diakses online maupun offline, menjawab tantangan digital di daerah terpencil. Gabungkan fitur pembelajaran, administrasi, dan monitoring, aplikasi ini disebut sebagai game-changer dalam revolusi pendidikan nasional.
Mu’ti menekankan, isu Out-of-School Children and Youth (OOSCY) khususnya di daerah perbatasan, harus diatasi dengan kemitraan regional yang solid. “Kita perlu gerakan masif, melibatkan semua pemangku kepentingan, dari pemerintah hingga masyarakat lokal,” serunya di hadapan para menteri pendidikan ASEAN.
Memperkuat sistem data pendidikan berbasis real-time.
Mengembangkan kurikulum fleksibel yang adaptif dengan kebutuhan siswa.
Meningkatkan kualitas guru melalui pelatihan berbasis teknologi.
Pidato Penutup yang Membakar Semangat
Sebelum mengakhiri pidatonya, Mu’ti menantang seluruh delegasi untuk mengambil langkah berani:
“Mari kita tinggalkan pembicaraan dan mulai aksi nyata! Pendidikan inklusif dan merata bukan mimpi, tapi tujuan yang harus kita raih bersama!”
Dengan tekad baja dan inovasi tanpa henti, Indonesia siap memimpin ASEAN menuju era baru pendidikan tanpa batas. Siapakah yang akan bergabung dalam revolusi ini?


















