investigasiindonesia.com – Momen penerimaan murid baru di Kota Mataram tahun ini mencatat fenomena luar biasa. Sekolah-sekolah yang selama ini dianggap “pinggiran” justru menjadi rebutan, bahkan kuota jalur prestasi dan afirmasi di beberapa SMP terpenuhi lebih cepat dari perkiraan. Salah satunya adalah SMPN 14 Mataram, yang sukses menutup pendaftaran dua jalur tersebut hanya dalam waktu singkat.
“Alhamdulillah, kuota 130 siswa untuk jalur prestasi dan afirmasi sudah terisi penuh. Ini bukti bahwa kepercayaan masyarakat terhadap sekolah kami semakin tinggi,” ujar Lina Yeti Budiasih, Kepala SMPN 14 Mataram.
Rinciannya, sebanyak 72 kursi diperuntukkan bagi siswa berprestasi akademik maupun nonakademik, sementara 58 kursi lainnya dialokasikan untuk siswa dari keluarga kurang mampu melalui jalur afirmasi. Menariknya, antusiasme calon siswa begitu besar hingga beberapa orang tua harus dialihkan ke sekolah terdekat karena kuota sudah habis.
Selama ini, sekolah di pusat kota selalu menjadi favorit. Namun, tahun ini justru sekolah seperti SMPN 14 Mataram—yang terletak di Jalan Brawijaya—menjadi incaran. Orang tua tidak lagi hanya mempertimbangkan lokasi, melainkan juga kualitas pendidikan dan peluang afirmasi yang diberikan.
“Banyak orang tua belum paham bahwa sekolah di dekat rumah mereka juga punya kualitas bagus. Kami terus sosialisasikan agar mereka tidak kehilangan kesempatan,” jelas Lina.
Jalur Domisili Masih Dibuka, Warga Sekitar Diprioritaskan
Meski jalur prestasi dan afirmasi sudah penuh, masih ada kesempatan bagi calon siswa melalui jalur domisili yang dibuka mulai 30 Juni hingga 2 Juli. Sekolah mengimbau masyarakat sekitar segera mendaftar sebelum kuota terisi.
“Sekolah ini untuk warga sekitar juga. Kami ingin memastikan anak-anak di lingkungan terdekat bisa bersekolah di sini,” tambah Lina.
Yati, salah satu orang tua yang mendaftarkan anaknya melalui jalur prestasi, mengaku puas dengan proses pendaftaran di SMPN 14 Mataram.
“Anak saya punya prestasi di bidang pramuka dan drumband, jadi kami memilih jalur ini. Selain itu, jaraknya dekat dari rumah, dan pelayanannya sangat baik,” ungkapnya.
Kepopuleran sekolah pinggiran seperti SMPN 14 Mataram menunjukkan pergeseran pola pikir masyarakat. Kini, orang tua tidak hanya mengejar gengsi sekolah favorit di pusat kota, tetapi juga mempertimbangkan aksesibilitas, prestasi, dan kebijakan afirmasi yang adil.
Dengan kuota yang penuh lebih cepat dari tahun-tahun sebelumnya, SMPN 14 Mataram membuktikan bahwa kualitas pendidikan tidak selalu identik dengan lokasi strategis.


















