investigasiindonesia.com – Langkah revolusioner diambil Bupati Lombok Timur (Lotim), H. Haerul Warisin, untuk mengubah wajah pariwisata Teluk Ekas. Dengan mengumpulkan seluruh pemangku kepentingan—mulai dari pelaku wisata, masyarakat adat, hingga aparat hukum—ia menggagas pembentukan awik-awik (aturan adat) sebagai fondasi pengelolaan wisata yang berkelanjutan.
“Ini bukan sekadar aturan biasa, tapi komitmen kita untuk menjadikan Ekas sebagai destinasi yang aman, nyaman, dan menguntungkan semua pihak,” tegas H. Haerul Warisin, yang akrab disapa Haji Iron, dalam pertemuan tersebut.
Wisata Tanpa Retribusi, Fasilitas Segera Dibangun
Bupati menegaskan, Pemkab Lotim tidak akan memungut retribusi sebelum fasilitas pendukung wisata rampung. Dalam waktu dekat, pos informasi, toilet umum, dan area parkir akan dibangun untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung. “Nanti retribusinya sangat ringan, Rp 5-10 ribu saja, dan langsung dikelola oleh Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata), bukan pemkab,” jelasnya.
Solusi Konflik, Tamu Tetap Diprioritaskan
Isu viral beberapa waktu lalu tentang “pelarangan wisatawan” pun diluruskan. Haji Iron menegaskan bahwa ia sama sekali tidak mengusir tamu, hanya mengatur agar aktivitas surfing dan kunjungan berlangsung tertib. “Tamu adalah raja. Tapi kita juga wajib menjamin keselamatan mereka dan kelestarian alam,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya melibatkan nelayan lokal dalam transportasi wisatawan. “Dengan begitu, ekonomi masyarakat ikut bergerak. Mereka bisa belanja, menikmati kuliner, atau menjelajahi destinasi lain sambil menunggu rekan mereka yang berselancar.”
Dampak Positif: Konflik Mereda, Kunjungan Meningkat
Irawan, Ketua Ekas Surf Club, mengakui perubahan signifikan pasca-intervensi bupati. “Dulu sempat ada ketegangan dengan pengunjung dari Lombok Tengah, tapi sekarang sudah damai. Tamu mancanegara pun lebih memilih naik motor atau mobil ketimbang parkir di laut,” ungkapnya.
Langkah tegas Haji Iron ini disebut sebagai titik balik setelah tiga tahun masalah terpendam. Kini, Ekas tidak hanya lebih tertib, tetapi juga mulai dilirik wisatawan yang menginginkan pengalaman berwisata dengan nilai budaya yang kental.
Masa Depan Ekas: Dari Aturan Adat Hingga Perda
Pembentukan awik-awik menjadi langkah awal menuju Perda Kabupaten yang lebih komprehensif. Nantinya, aturan ini akan mendorong pengelolaan wisata berbasis kearifan lokal, tanpa mengorbankan keamanan maupun ekosistem pesisir.
“Kita tidak anti perkembangan, tapi semua harus terukur. Laut bukan hanya untuk berselancar, tapi juga kehidupan nelayan dan anak cucu kita nanti,” pungkas Haji Iron.
Dengan semangat kolaborasi, Lombok Timur membuktikan bahwa pariwisata berkelas dunia bisa diraih tanpa meninggalkan adat dan lingkungan.


















