investigasiindonesia.com – Suara riuh obrolan dan tawa ringan terdengar dari sebuah aula kecil di Lingkungan Pagesangan Indah, Kota Mataram, Rabu lalu (25/6). Bukan arisan atau demo masak yang sedang digelar, melainkan pelatihan teknik ecoprint – seni menghias kain dengan motif alami dari daun dan bunga. Yang membuatnya lebih istimewa: para pesertanya adalah ibu-ibu rumah tangga yang dulunya hanya berkutat di dapur, kini serius menekuni dunia fashion ramah lingkungan.
Di balik perubahan ini, ada sosok Esti Ebhi Evolisa. Perempuan inspiratif yang tidak hanya mempopulerkan ecoprint, tetapi juga menanamkan semangat berkarya dan berdaya di tengah komunitas. Lewat Sanggar Batik Gesang yang ia dirikan, Esti sukses menularkan “virus kreatif” kepada para emak-emak di lingkungannya.
“Awalnya mereka ragu, merasa tidak punya bakat. Tapi begitu melihat hasil karya pertama, kepercayaan diri mereka langsung tumbuh,” ujar Esti, sambil memamerkan selembar kain dengan motif daun jati dan bunga sepatu yang elegan.
Ecoprint bukan hanya soal estetika. Bagi Esti dan para ibu di Pagesangan, ini adalah simbol perubahan peran perempuan dalam masyarakat. Dari yang semula hanya mengurus rumah, kini mereka terlibat aktif dalam ekonomi kreatif. Bahkan, karya mereka sudah dipersiapkan untuk menyambut Festival Olahraga Rekreasi Nasional (Fornas), ajang nasional yang akan digelar dalam waktu dekat.
“Siapa sangka, kami bisa jualan batik hasil sendiri, bahkan harganya bisa tembus Rp 400 ribu,” ujar Sri Wahyuni, salah satu peserta pelatihan yang kini menjadi mitra produksi sanggar.
Tak hanya ecoprint, Esti juga mengembangkan produksi batik tuli, sebagai bentuk inklusivitas dalam berkarya. Melalui pelatihan bersama komunitas disabilitas, ia menunjukkan bahwa semua orang punya ruang untuk berkembang.
Kisah Esti dan para ibu di Pagesangan Indah adalah bukti bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil – dari sehelai daun, selembar kain, dan semangat yang tak pernah padam.


















