Perayaan ulang tahun ke-66 Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Selasa, 17 Desember 2024, bukan sekadar seremoni biasa. Di tengah meriahnya upacara di Lapangan Bumi Gora, Kantor Gubernur NTB, Penjabat Gubernur Hasanuddin tampil dengan semangat penuh optimisme. “Ini bukan sekadar angka. 66 tahun NTB adalah cerita tentang perjuangan, kerja keras, dan gotong royong yang luar biasa,” seru Hasanuddin di hadapan ribuan peserta upacara.
Namun, di balik senyum dan tepuk tangan, angka-angka capaian pembangunan NTB memang patut diacungi jempol. Tapi… (sabar dulu, jangan buru-buru) – apa benar NTB sudah siap jadi “provinsi kelas dunia” seperti yang sering digaungkan? Yuk, kita bedah satu-satu!
Stunting Turun Drastis, Emang Benar Nih?
Salah satu kebanggaan yang dibacakan Hasanuddin adalah angka penurunan stunting di NTB. Pada triwulan pertama 2024, angka balita stunting tercatat 59.302 anak (13,49 persen). Tapi kabar gembiranya, triwulan ketiga menunjukkan angka itu susut jadi 52.619 anak (12,93 persen). “Bukan cuma soal angka, ini tentang masa depan anak-anak kita,” tegas Hasanuddin.
Program penanganan stunting di NTB memang jadi sorotan nasional. Ada kolaborasi gila-gilaan antara Pemprov, tenaga kesehatan, dan tokoh masyarakat. Dari program posyandu digital sampai asupan gizi gratis – semua jalan. Tapi di lapangan, masih banyak emak-emak yang teriak soal mahalnya harga telur dan susu. Jadi, apa penurunan angka ini benar-benar bertahan atau hanya sementara?
“Ini bagus sih. Tapi kalau harga pangan naik terus, saya rasa masih akan berat buat sebagian keluarga di desa,” ujar Nurhayati, ibu rumah tangga di Lombok Tengah.
Pengangguran Kabur, TPAK Naik: Anak Muda Jadi Juragan atau Buruh?
Beralih ke sektor tenaga kerja, Hasanuddin membeberkan bahwa jumlah angkatan kerja di NTB pada Februari 2024 mencapai 3,03 juta orang. Ini artinya ada peningkatan 163.340 orang dibandingkan Februari 2023. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) naik 2,80 poin. Sementara itu, tingkat pengangguran terbuka (TPT) turun menjadi 3,30 persen. Kabar yang super manis, bukan?
Eits, tapi tunggu dulu. Pertanyaannya: pekerjaan seperti apa yang mereka dapatkan?
Menurut data, mayoritas angkatan kerja NTB masih didominasi pekerja informal. Dari ojek online sampai pekerja proyek di sirkuit Mandalika – banyak yang bekerja tanpa jaminan hari tua. Alih-alih jadi juragan, kebanyakan anak muda NTB masih berjuang di pekerjaan serabutan.
“Banyak lapangan kerja di NTB itu musiman. Contohnya event MotoGP, saat ada event banyak kerjaan, tapi setelah itu balik lagi nganggur. Ini yang perlu kita perbaiki,” jelas Rahmat, pengamat ekonomi dari Universitas Mataram.
Mimpi NTB Jadi Provinsi Kelas Dunia, Realistis atau Ilusi?
Sejak suksesnya MotoGP di Mandalika dan proyek-proyek besar lainnya, NTB makin berambisi tampil di panggung dunia. Slogan “NTB Gemilang” dan mimpi jadi provinsi kelas dunia terus digaungkan. Tapi untuk mewujudkannya, ada PR besar yang masih terbengkalai. Mulai dari infrastruktur desa, layanan kesehatan, pendidikan, hingga lapangan kerja berkelanjutan.
Di sisi lain, ada juga masyarakat yang mulai skeptis dengan mimpi besar ini. “Jangan kebanyakan mimpi besar kalau rakyat kecil masih susah beli beras. Lebih baik fokus bikin hidup rakyat aman, sejahtera, dan murah,” kritik Murniati, pedagang di pasar tradisional Mataram.
66 Tahun: Perayaan atau Pengingat?
Perayaan 66 tahun NTB seharusnya bukan cuma ajang pesta-pesta dan tepuk tangan. Ini adalah momentum untuk evaluasi. Apakah capaian yang dibanggakan sudah benar-benar dirasakan masyarakat dari ujung Gili Trawangan sampai pelosok Sape?
Hasanuddin sendiri menutup pidatonya dengan harapan, “Mari kita lanjutkan perjuangan ini bersama-sama. Kerja keras kita hari ini adalah investasi untuk masa depan NTB yang lebih baik.” Kata-kata yang manis, tapi masyarakat butuh lebih dari sekadar pidato.
Jadi, buat NTB: Selamat ulang tahun ke-66! Kerja kerasmu patut diapresiasi, tapi jangan puas dulu. Masih banyak tantangan di depan. Kalau benar-benar mau jadi provinsi kelas dunia, pastikan rakyat kecil ikut merasakan kemegahan itu.
Karena, apalah artinya angka-angka hebat kalau perut masih keroncongan dan kerja cuma serabutan? NTB, ayo buktikan! Viralkan? Boleh juga!


















